Kategori Berita
Jumat, 26 SEPTEMBER 2025 • 16:57 WIB

Fenomena Quiet Quitting di Indonesia: Penyebab dan Dampaknya Terhadap Dunia Kerja

Author

Fenomena Quiet Quitting di Indonesia: Penyebab dan Dampaknya Terhadap Dunia KerjaFenomena Quiet Quitting di Indonesia: Penyebab dan Dampaknya Terhadap Dunia Kerja

Fenomena ‘quiet quitting’ semakin menjadi sorotan di kalangan pekerja di Indonesia, sebagai respons atas ketidakpuasan terhadap imbalan yang diterima. Karyawan yang melakukan ‘quiet quitting’ cenderung tidak berniat untuk berambisi melebihi kewajiban pekerjaan mereka.

Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama dari Indonesia di Major League Soccer

Praktik ini mencerminkan ketidakcocokan antara gaji dan ekspektasi, di mana banyak karyawan merasa tertarik untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi, daripada terjun sepenuhnya dalam pekerjaan.

Pengertian dan Asal Usul Quiet Quitting

Istilah 'quiet quitting' mengacu pada situasi di mana karyawan memilih untuk melakukan tugas yang minimal dan tidak terlibat secara emosional dengan pekerjaan mereka. Fenomena ini dipicu oleh frustrasi terkait kompensasi dan ketidakpuasan di tempat kerja.

Awalnya, istilah ini populer di media sosial dan platform diskusi online, mencerminkan pergeseran budaya kerja yang lebih menitikberatkan pada keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Meskipun tampak sebagai solusi praktis, dampaknya terhadap produktivitas perusahaan bisa sangat signifikan.

Faktor Penyebab Munculnya Quiet Quitting

Salah satu faktor utama yang mendorong fenomena ini adalah ketidakpuasan terhadap gaji. Banyak karyawan merasa imbalan yang diterima tidak sebanding dengan beban kerja yang ditanggung.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Dugaan Penghasutan Massal yang Memicu Kontroversi

Dalam survei yang dilakukan oleh lembaga penelitian, lebih dari 60% responden mengakui ketidakpuasan terhadap gaji dan tunjangan yang diberikan. Hal ini berujung pada sikap enggan untuk berinvestasi lebih dalam pekerjaan yang dijalani.

Kurangnya penghargaan dan pengakuan dari manajemen juga turut berkontribusi. Karyawan banyak yang merasa kerja keras mereka diabaikan, sehingga memilih untuk menarik diri dan hanya memenuhi kewajiban dasar.

Dampak Quiet Quitting terhadap Perusahaan

Fenomena quiet quitting dapat membawa dampak negatif bagi perusahaan, mulai dari menurunnya produktivitas hingga berkurangnya motivasi bekerja karyawan. Ketika karyawan tidak lagi berinvestasi dalam pekerjaan, hasil kerja cenderung tak optimal.

Perusahaan yang menghadapi masalah ini harus siap mengatasi isu retensi karyawan. Ketidakpuasan yang tidak ditangani dapat menyebabkan karyawan menarik diri secara massal, merugikan perusahaan dalam jangka panjang.

Beberapa perusahaan berupaya mengatasi fenomena ini dengan meningkatkan paket gaji dan menawarkan lebih banyak insentif. Namun, pendekatan yang lebih holistik dan melekat pada budaya organisasi diperlukan untuk benar-benar mengatasi ketidakpuasan ini.

Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Fenomena Quiet Quitting di Indonesia: Penyebab dan Dampaknya Terhadap Dunia Kerja

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!