KAMI INDONESIA – Penyakit Lyme adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Borrelia burgdorferi, yang ditularkan melalui gigitan kutu. Gejala awal penyakit ini dapat berupa ruam, demam, dan nyeri tubuh. Namun, setelah pengobatan antibiotik, sekitar 14% pasien masih mengalami gejala berkepanjangan, dikenal sebagai Penyakit Lyme Pasca-Pengobatan (PTLD). Penemuan terbaru mengenai ‘kerangka’ bakteri yang tersembunyi di dalam tubuh membuka pemahaman baru tentang kondisi ini.
Tim peneliti dari Northwestern University mengidentifikasi adanya peptidoglikan, yang merupakan komponen penting dari dinding sel bakteri, masih tersisa dalam tubuh pasien meskipun telah mendapatkan pengobatan. Peptidoglikan ini tidak hanya mengindikasikan keberadaan bakteri, tetapi juga telah terbukti mengintensifkan reaksi imun dalam tubuh. Struktur kimia peptidoglikan Borrelia dapat membuatnya sulit dimusnahkan oleh sistem imun atau terapi antibiotik. Hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa pasien mengalami gejala yang berkepanjangan.
Sistem imun tubuh dapat bereaksi terhadap fragmen peptidoglikan ini, menghasilkan gejala seperti kelelahan, nyeri sendi, dan gangguan kognitif. Penelitian menunjukkan bahwa 20% dari pasien yang sebelumnya terinfeksi Lyme mengalami PTLD. Fenomena ini menunjukkan variasi respons imun antar individu; beberapa mungkin menunjukkan reaksi imun yang sangat kuat terhadap sisa-sisa bakteri, sedangkan yang lainnya mungkin memiliki toleransi yang lebih baik terhadap kehadiran bakteri tersebut.
Temuan ini mengindikasikan bahwa gejala berkepanjangan setelah pengobatan mungkin tidak hanya disebabkan oleh keberadaan bakteri, melainkan juga oleh reaksi sistem imun yang berlebihan terhadap fragmen bakteri yang telah mati. Ini menambah kompleksitas dalam memahami penyakit Lyme dan meningkatkan pemahaman tentang bagaimana gejala kronis dapat muncul setelah pengobatan.
Munculnya temuan ini juga membuka peluang baru dalam pengembangan strategi pengobatan untuk pasien dengan gejala berkepanjangan setelah infeksi Lyme. Peneliti berupaya untuk merancang terapi yang lebih efektif yang tidak hanya menargetkan bakteri, tetapi juga mengatasi reaksi imun yang mungkin memicu PTLD. Pendekatan baru ini memiliki potensi untuk mengurangi dampak gejala berkepanjangan bagi pasien.
Penemuan ‘kerangka’ bakteri Lyme yang tersembunyi menunjukkan adanya hubungan kompleks antara infeksi, respons imun, dan gejala berkelanjutan pasca-pengobatan. Hal ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam penelitian penyakit Lyme yang diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan terapi yang lebih efektif dan pemahaman yang lebih baik mengenai gejala berkelanjutan yang dialami oleh pasien.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: