Paus Leo XIV. (Foto: Istimewa)
KAMI INDONESIA – Paus Leo XIV, yang dilantik pada Mei 2025, membawa angin segar dengan komitmennya untuk memperkuat dialog antara Gereja Katolik dan umat Yahudi. Pemimpin Gereja Katolik pertama asal Amerika Serikat ini mengambil alih tampuk kepemimpinan pada saat hubungan antara Vatikan dan Israel mengalami ketegangan setelah konflik baru-baru ini di Gaza.
Ketegangan ini dipicu oleh invasi Israel ke Gaza pada Oktober 2023, yang mengakibatkan banyak kecaman internasional dan merusak komunikasi antara kedua institusi.
Sejak ditandatanganinya perjanjian mendasar pada tahun 1993, hubungan antara Vatikan dan Israel telah mengalami pasang surut. Meskipun ada periode ketika komunikasi terjalin dengan baik, insiden terkini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan mengenai isu-isu tertentu bisa mengganggu kerja sama yang dibangun selama bertahun-tahun.
Dalam surat yang dikirim kepada Rabbi Noam Marans, Direktur Urusan Antar-agama Komite Yahudi Amerika, Paus Leo XIV menegaskan pentingnya dialog dan kerja sama antara Gereja Katolik dan komunitas Yahudi.
Ia menyebutkan komitmennya untuk mengandalkan bantuan Yang Mahakuasa demi memperdalam hubungan tersebut. Leo XIV mengacu pada semangat deklarasi Nostra Aetate yang dihasilkan pada Konsili Vatikan Kedua, yang berupaya menghapus stereotip dan membuka jalan bagi dialog yang konstruktif.
Dialog ini dianggap sangat penting, terutama dalam konteks ketegangan yang terjadi. Dalam suratnya, Paus Leo XIV mengindikasikan keinginan untuk saling memahami dan mendukung satu sama lain, yang bisa menjadi faktor pengendara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh kedua belah pihak di dunia yang semakin kompleks ini.
Ketegangan yang terjadi antara Vatikan dan Israel tidak hanya berdampak pada hubungan diplomatik, tetapi juga pada interaksi sosial dan keagamaan antara kedua komunitas.
Perang di Gaza 2023 menimbulkan banyak pertanyaan mengenai sikap moral dan etika dalam menghadapi konflik, serta tanggung jawab masing-masing pihak dalam mendorong perdamaian.
Paus Leo XIV, dengan jabatannya, diharapkan mampu memberikan pandangan baru yang tidak hanya berbasis pada keagamaan tetapi juga pada kemanusiaan.
Kemunduran dalam hubungan ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk organisasi-organisasi internasional, sehingga perlunya adanya dialog yang lebih intensif untuk mendiskusikan isu-isu sensitif yang menyangkut keberlangsungan hidup umat manusia dan hak asasi manusia.
Paus Leo XIV mengusulkan perlunya dialog dan kerja sama tidak hanya antara Vatikan dan komunitas Yahudi, tetapi juga dengan para pemimpin dunia yang lain.
Sikap ini sejalan dengan tren global yang semakin mengedepankan kolaborasi antaragama dan kepercayaan dalam memecahkan masalah-masalah kemanusiaan. Melalui pendekatan inklusif ini, Paus Leo XIV berambisi membawa suara Gereja Katolik ke dalam forum-forum internasional yang lebih luas.
Peran dialog interagama semakin penting di tengah meningkatnya radikalisasi dan konflik berbasis agama, yang dapat mengancam kerukunan umat beragama.
Paus Leo XIV bisa menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai komunitas demi mencapai kesepahaman dan mengurangi ketegangan di tingkat lokal maupun global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: