Makam Pelawak Nurul Qomar, grup lawak 4 Sekawan. (Foto: Istimewa)
KAMI INDONESIA – Pemakaman Abah Qomar, pelawak senior yang meninggal dunia lima bulan lalu, kini menjadi sorotan publik kembali. Keluarga merasa terganggu dengan adanya konten tidak pantas yang dibuat di sekitar makam. Konten tersebut menunjukkan makam yang dinilai tidak terurus oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Hal ini tentu menjadi masalah sensitivitas bagi keluarga dan penggemar. Keluarga Abah Qomar, yang diwakili oleh anaknya, Jay Kaktus, secara tegas mengecam prilaku yang memperlakukan makam ayahnya seolah hanya sebagai lokasi untuk konten yang mengundang perhatian semata.
Mereka menegaskan bahwa perawatan makam dilakukan sesuai dengan kehendak Abah Qomar semasa hidupnya.
Makam tidak hanya sekedar tempat peristirahatan terakhir. Mereka merupakan simbol penghormatan dan kenangan terhadap seseorang yang telah meninggalkan kita. Dengan membuat konten di makam, seseorang seolah merendahkan makna sesungguhnya dari tempat tersebut.
Hal ini perlu dipahami oleh generasi muda agar dapat menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal. Banyak orang yang mencari ketenangan dan refleksi di tempat berziarah, dan tindakan yang merendahkan tersebut dapat mengganggu proses tersebut, baik bagi keluarga maupun bagi pengunjung lainnya.
Menghormati makam menjadi penting, bukan hanya untuk menjaga keutuhan warisan budaya, tetapi juga untuk menghargai nilai-nilai moral dalam berinteraksi dengan memori orang tercinta.
Dewasa ini, media sosial menjadi wadah bagi banyak orang untuk berekspresi. Namun, tidak jarang ekspresi tersebut melanggar batas-batas etika. Konten yang mengeksploitasi makam dan melibatkan orang lain menjadi pelanggaran yang tidak bisa dibiarkan.
Kesehatan mental orang yang terkena dampak dari konten negatif seperti itu patut menjadi perhatian, termasuk keluarga Abah Qomar yang merasakan dampak emosional.
Pengguna media sosial sebaiknya bijak dalam membuat dan menyebarkan konten. Mengandalkan klik dan view untuk mencapai popularitas bukanlah alasan yang dapat dibenarkan untuk mengabaikan norma sosial dan rasa hormat terhadap orang lain.
Hanya dengan menyebarkan konten yang positif, kita dapat menciptakan ruang digital yang aman dan nyaman bagi semua.
Jay Kaktus tidak hanya berbicara mewakili keluarganya, tetapi juga menyoroti adanya tanggung jawab sosial. Ketika masyarakat menyaksikan tindakan yang tidak menghormati, mereka perlu menunjukkan rasa solidaritas.
Keluarga Abah Qomar berharap masyarakat dapat lebih peka dan kritis terhadap konten yang tidak etis, serta mendukung tindakan menghargai orang-orang yang telah pergi kala mereka dibutuhkan.
Inisiatif untuk melawan konten negatif ini juga telah mendapat dukungan dari banyak pengguna media sosial lain yang menyuarakan pentingnya menghormati makam sebagai simbol penghormatan.
Jika masyarakat berbondong-bondong menegakkan hirarki moral dalam berinteraksi di ruang digital, maka akan tercipta budaya yang saling menghargai dan lebih bermartabat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: