Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menggelar rapat koordinasi dengan kementerian dan kepala daerah terkait perlindungan pesisir Pantura Jawa. Dalam pertemuan tersebut, beliau menyampaikan kondisi memprihatinkan yang dihadapi wilayah tersebut seiring dengan penurunan permukaan tanah yang drastis.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN
AHY mengungkapkan bahwa penurunan permukaan tanah mencapai 15 hingga 20 cm per tahun, dengan dampak bencana yang semakin besar jika tidak dilakukan penanganan serius. Beliau menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menangani krisis lingkungan yang mengancam kehidupan masyarakat di wilayah Pantura.
Penurunan Permukaan Tanah dan Kenaikan Permukaan Air Laut
Dalam rapat koordinasi yang berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026, AHY menjelaskan bahwa wilayah Pantura Jawa menghadapi tantangan besar akibat penurunan permukaan tanah yang terus berlanjut. Beliau menyatakan, "Setiap saat seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya beberapa kali, mengatakan telah terjadi penurunan permukaan tanah mulai 15 cm hingga 20 cm per tahun."
Masalah ini, lanjut AHY, terutama terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Semarang, namun juga terjadi di daerah lainnya. Kenaikan permukaan air laut yang dipicu oleh pemanasan global menambah tekanan kepada wilayah ini, dengan angka kenaikan antara 0,8 cm hingga 1,2 cm per tahun.
AHY memperingatkan bahwa tanpa penanganan serius, pada tahun 2050 kondisi di Pantura Jawa berpotensi menjadi lebih parah. "Ini mengakibatkan terus mengintainya banjir rob yang bisa menghancurkan properti dan merusak rumah-rumah warga," ujarnya.
Baca juga: Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Ditangkap: Tuduhan Provokasi dan Tindakan Anarkis
Krisis Air Bersih dan Potensi Ekonomi Terancam
Selain dampak fisik dari bencana, AHY juga menyinggung masalah krisis air bersih yang dihadapi masyarakat di Pantura Jawa. "Ini juga harus kita tangani secara serius," tegasnya, merujuk pada kesulitan warga dalam memperoleh akses ke air bersih amid banjir yang melanda.
Krisis air bersih ini merupakan masalah yang perlu menjadi perhatian karena menyangkut kelangsungan hidup masyarakat setempat. Ketidakstabilan dalam ketersediaan air bersih akan memperburuk kehidupan mereka.
AHY juga menekankan bahwa jika permasalahan ini tidak ditangani, hal tersebut akan berimbas pada perekonomian Indonesia. Pada tahun 2025, Pantura Jawa diproyeksikan berkontribusi sebesar 27,53% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, yang setara dengan sekitar US$368,37 miliar.
Pentingnya Kolaborasi dalam Penanganan Masalah
AHY menyerukan perlunya kolaborasi dan tindakan bersama yang kuat untuk menangani masalah di Pantura Jawa. "Jika kita memiliki proyeksi yang positif, maka kita harus menangani kondisi Pantura Jawa ini dengan baik dan serius," ungkapnya.
Kepedulian terhadap lingkungan adalah kunci untuk menjaga kelangsungan hidup dan ekonomi masyarakat di Pantura, dan AHY menegaskan, tindakan preventif harus menjadi prioritas. Penanganan kerusakan lingkungan yang efisien akan menjadi langkah krusial di masa depan.
Beliau menekankan bahwa untuk mencegah kerusakan lingkungan semakin buruk, diperlukan kerja sama antar pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak terkait lainnya. Tantangan yang ada harus ditangani secara komprehensif dan berkelanjutan.
Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: