Iran menegaskan penolakannya untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat, seiring dengan ancaman yang terus berlanjut. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa proses perundingan seharusnya bebas dari tekanan eksternal.
Baca juga: Novak Djokovic Melangkah ke Semifinal US Open 2025 Setelah Mengalahkan Taylor Fritz
Dalam kritiknya, Ghalibaf menilai Presiden AS Donald Trump berupaya mengubah dinamika diplomasi melalui taktik ancaman. Ia menekankan bahwa posisi Iran tidak akan berubah meski terpaksa menghadapi tekanan politik.
Kritik Terhadap Kebijakan AS
Ghalibaf menekankan bahwa keputusan Presiden Trump merugikan situasi, terutama terkait kebijakan blokade di Selat Hormuz. Ia menganggap langkah tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati.
Dalam press conference, ia menuturkan bahwa ancaman dari AS berupaya menjadikan negosiasi sebagai 'meja penyerahan diri atau untuk membenarkan kembali perang'. Pernyataan ini menambah keyakinan Iran untuk tetap bertahan pada posisinya tanpa kompromi.
Lebih jauh, Ghalibaf menambahkan bahwa Iran mempersiapkan pilihan militer baru jika gencatan senjata yang dimediasi Pakistan berakhir, yang menunjukkan kesiapsiagaan Iran menghadapi eskalasi yang mungkin terjadi dalam situasi yang tidak stabil ini.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Kondisi Terkini di Selat Hormuz
Amerika Serikat hingga saat ini masih mempertahankan blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal yang beroperasi di pelabuhan Iran. Hal ini dianggap oleh Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya ditegakkan.
Setelah pengumuman bahwa Selat Hormuz dibuka untuk lalu lintas maritim pada hari Jumat, situasi berubah dengan cepat ketika Iran kembali membatasi pergerakan kapal pada hari Sabtu. Langkah ini mencerminkan ketegangan yang terus memuncak antara kedua negara.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa AS gagal memenuhi kewajibannya, menyebabkan meningkatnya ketegangan di kawasan yang sudah rawan konflik. Kejadian ini menjadi indikator jelas bahwa situasi di Selat Hormuz masih jauh dari stabil.
Pertemuan Pertama AS dan Iran
Pada tanggal 11-12 April, Pakistan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi antara perwakilan AS dan Iran. Ini merupakan momen bersejarah mengingat hubungan diplomatik kedua negara telah terputus sejak 1979.
Walaupun pertemuan ini menandai sebuah langkah awal, tidak ada terobosan signifikan yang berhasil dicapai. Hasil ini menunjukkan tantangan yang besar dalam mencapai kesepakatan di antara kedua belah pihak.
President Trump juga mengirim perwakilan AS ke Islamabad tanpa adanya jaminan keikutsertaan dari pihak Iran, yang menunjukkan keraguan Tehran terhadap komitmen AS dalam menjalani negosiasi tersebut.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran BEM SI: ‘Indonesia (C)emas’ Digelar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: