Pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, mengindikasikan kebuntuan yang memperpanjang ketegangan diplomatik.
Baca juga: Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Ditangkap: Tuduhan Provokasi dan Tindakan Anarkis
Negosiasi yang berlangsung selama hampir 21 jam tidak menghasilkan solusi, meskipun dihadiri oleh pejabat tinggi dari kedua negara dan dimediasi oleh Pakistan.
Fokus Pembicaraan yang Tidak Sesuai
Salah satu penyebab utama kegagalan ini adalah bahwa fokus pembicaraan lebih banyak menyoroti isu-isu masa lalu daripada membahas solusi masa depan.
AS berusaha menekan Iran mengenai program nuklir dan kebebasan navigasi, sementara Iran menuntut pengakuan akan kepentingan regional dan kompensasi atas kerugian yang dialaminya.
"Secara formal mereka bicara masa depan, tapi substansinya memperdebatkan masa lalu," ungkap Murad Sadygzade, seorang pakar di bidang studi Timur Tengah.
Hal ini mengakibatkan para negosiator terjebak dalam sejarah konflik yang panjang dan tidak mampu bergerak menuju solusi yang lebih konstruktif.
Ketiadaan Kepercayaan
Absennya kepercayaan antara kedua pihak menjadi penghalang utama dalam negosiasi ini.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Dampaknya di Kampus
Retorika AS tentang "penawaran terbaik dan terakhir" seringkali disalahartikan oleh Iran sebagai bentuk ultimatum.
"Nada seperti itu bukan undangan damai, melainkan bentuk superioritas yang justru menutup ruang kompromi," jelas Murad, mencerminkan ketegangan antara kedua negara.
Akibatnya, kedua belah pihak terperangkap dalam posisi defensif, yang menghambat kemungkinan penyelesaian konflik.
Kondisi Geopolitik dan Domestik
AS memasuki perundingan dalam kondisi tertekan, dengan konflik yang berkepanjangan telah mengguncang pasar energi global dan meningkatkan tantangan ekonomi.
Murad mencatat bahwa "Washington membutuhkan jeda lebih dari yang ingin mereka akui," menunjukkan kerentanan yang ada.
Di sisi lain, tekanan politik domestik di AS mempersempit ruang untuk negosiasi yang produktif.
"Ketika satu pihak tertekan oleh waktu politik domestik, insentif untuk mengalah justru menurun," tambah Murad, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh pemerintah AS.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: