Jumat, 13 MARET 2026 • 16:30 WIB

Mengungkap Misteri Monumen Yonaguni yang Terpendam di Dasar Laut Jepang

Author

Mengungkap Misteri Monumen Yonaguni yang Terpendam di Dasar Laut Jepang

Monumen Yonaguni, sebuah struktur raksasa yang terletak di dasar laut Jepang, menarik perhatian akibat formasi batuannya yang unik. Temuan ini telah memicu banyak spekulasi mengenai asal usulnya sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1986.

Baca juga: Desta Sebarkan Tuntutan 17+8 Setelah Hujatan Netizen Terkait Pilihan Politik

Kihachiro Aratake, penyelam yang pertama kali menemukan monumen ini, menyatakan bahwa struktur tersebut dapat membuktikan adanya peradaban kuno. Berbagai hipotesis tentang fungsi dan penciptaan monumen ini selanjutnya telah dikemukakan oleh ilmuwan dan peneliti.

Kronologi Penemuan Monumen Yonaguni

Monumen Yonaguni ditemukan di dasar laut oleh Kihachiro Aratake, seorang penyelam dan direktur asosiasi pariwisata lokal, secara tidak sengaja saat ia mencari titik penyelaman yang baru. Dalam sebuah wawancara dengan BBC pada tahun 2022, Aratake menyatakan, "Sekitar 35 tahun yang lalu, saat saya sedang mencari titik penyelaman, saya menemukannya secara kebetulan."

Struktur monumen ini terdiri dari formasi batuan yang memiliki bentuk menyerupai piramida dengan tangga yang tampak dipahat. Aratake menekankan, "Saya sangat emosional ketika menemukannya. Setelah menemukannya, saya menyadari bahwa ini akan menjadi harta karun Pulau Yonaguni."

Sejak saat itu, penemuan ini telah menarik perhatian banyak ilmuwan yang berusaha mencari tahu lebih jauh tentang asal usul dan makna dari monumen tersebut. Hal ini membuktikan bahwa monumen ini bukan hanya sekedar objek wisata, melainkan juga sebuah subjek penelitian yang penting.

Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN

Teori dan Hipotesis Asal Usul

Setelah penemuan monumen tersebut, Aratake berkonsultasi dengan para ilmuwan dari Universitas Ryūkyūs untuk mendapatkan wawasan yang lebih dalam. Masaaki Kimura, seorang ahli biologi kelautan, berpendapat bahwa Monumen Yonaguni mungkin merupakan bagian dari benua Mu yang hilang yang dilandasi oleh teori mengenai Lemuria.

Sebaliknya, ada juga teori lain yang menyebutkan bahwa struktur ini mungkin diciptakan antara 10.000 hingga 14.000 tahun yang lalu, yang mungkin menjadikannya lebih tua daripada peradaban yang dikenal. Teori ini seringkali dihubungkan dengan legenda Atlantis, yang menambah kompleksitas narasi yang mengelilingi monumen ini.

Keanekaragaman hipotesis ini menunjukkan bagaimana Monumen Yonaguni memicu diskusi luas mengenai sejarah purba umat manusia dan kemungkinan adanya peradaban yang hilang.

Pendapat Ahli Geologi mengenai Monumen

Walaupun banyak hipotesis yang beredar, beberapa ahli geologi menganggap perlunya evaluasi lebih lanjut terhadap asal usul Monumen Yonaguni. Robert Schoch, profesor dari Boston University yang melakukan penyelaman di lokasi tersebut, meragukan bahwa struktur itu merupakan buatan manusia.

"Saya tidak yakin bahwa salah satu fitur atau struktur utama adalah tangga atau teras buatan manusia, tetapi semuanya alami," kata Schoch. Ia berpendapat bahwa struktur tersebut adalah hasil dari proses geologi dan geomorfologi alami dengan dasar stratigrafi yang khas untuk batu pasir.

Schoch menambahkan bahwa garis tepi yang dihasilkan oleh aktivitas tektonik semakin menguatkan dugaan bahwa struktur ini berpotensi merupakan produk alam. "Di permukaan, saya juga menemukan cekungan dan rongga yang terbentuk secara alami yang tampak persis seperti 'lubang tiang' yang diduga oleh beberapa peneliti," tuturnya.

Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU