Battlefield 6 berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu game terlaris pada tahun 2025, namun kesuksesan ini tidak mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di kalangan pengembangnya.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Perdebatan Selebritas di DPR dan Tantangan Akuntabilitas
Electronic Arts (EA) telah melaporkan adanya pengurangan jumlah karyawan yang terlibat dalam pengembangan game tersebut, meskipun detail mengenai jumlah pasti belum diungkapkan.
Keputusan PHK di Tengah Kesuksesan
Electronic Arts mengumumkan adanya perubahan struktural dalam tim pengembangan Battlefield. "Kami telah melakukan beberapa perubahan dalam organisasi Battlefield kami untuk lebih menyelaraskan tim kami dengan hal-hal yang paling penting bagi komunitas kami," ujar EA.
Pernyataan ini menggambarkan adanya penyesuaian strategi di tengah pencapaian penjualan yang impresif. Data dari Circana menunjukkan bahwa Battlefield 6 berhasil melampaui penjualan Call of Duty: Black Ops 7 di Amerika Serikat.
Meskipun meraih prestasi, keputusan PHK menggambarkan kerumitan yang dihadapi oleh EA dalam menyeimbangkan keberhasilan komersial dengan kebutuhan internal.
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Ekspektasi Tinggi dan Realitas Industri
Sukses penjualan Battlefield 6 ternyata tidak memenuhi ekspektasi yang dipatok oleh EA. Diketahui bahwa EA menginvestasikan lebih dari USD 400 juta dalam pengembangan game ini dengan target untuk menarik 100 juta pemain.
Target tersebut dianggap tidak realistis oleh beberapa pengembang, mengingat Battlefield 1, seri sebelumnya, hanya mampu mencapai 30 juta pemain. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan realitas di industri.
Para pekerja berpendapat bahwa ekspektasi yang terlalu tinggi dapat menjadi faktor penyebab di balik pemangkasan jumlah karyawan, meskipun game telah mencapai kesuksesan komersial.
Dampak di Balik Layar
Di balik kesuksesan Battlefield 6, terdapat berbagai isu yang memicu keputusan EA terkait pemutusan hubungan kerja. Salah satu faktor penting disebutkan berkenaan dengan investasi besar dari Arab Saudi dalam sektor gaming, yang menciptakan tantangan baru bagi studio.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan komersial terkadang tidak sejalan dengan kesejahteraan tim pengembang. "Dampaknya bagi tim pengembang bisa jadi sebaliknya, meninggalkan pertanyaan mengenai bagaimana manajemen perusahaan merespons tantangan di era kompetitif ini," ungkap sumber dalam industri.
Representasi realistis industri game menunjukkan bahwa tantangan untuk mempertahankan tim yang kompeten menjadi semakin kompleks di tengah persaingan yang ketat.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Pertimbangan Penting untuk Pelari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: