Senin, 09 MARET 2026 • 16:05 WIB

Lebih dari 700 Ribu Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental

Author

Lebih dari 700 Ribu Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengungkapkan adanya temuan serius terkait kesehatan mental di kalangan anak-anak, dengan lebih dari 700 ribu anak terdeteksi mengalami gejala gangguan mental. Data ini berasal dari skrining program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mencakup sekitar 7 juta anak, menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi merupakan masalah yang paling banyak ditemukan.

Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Menuai Kritik

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan pentingnya peningkatan deteksi masalah kesehatan jiwa pada anak, yang menunjukkan prevalensi hampir 10% di antara anak yang di-skrining. Hal ini menegaskan perlunya perhatian yang lebih dalam terkait isu kesehatan mental sejak usia dini.

Hasil Skrining dan Gejala yang Ditemukan

Hasil dari program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan bahwa 4,4% anak mengalami gejala kecemasan, sementara 4,8% menunjukkan gejala depresi. Temuan ini menyoroti perlunya perhatian lebih terhadap kesehatan mental anak di Indonesia.

Menteri Budi Gunadi Sadikin juga mengulas berbagai jenis gangguan kesehatan mental yang mungkin dialami anak-anak, dengan kecemasan dan depresi sebagai yang paling umum. 'Mental disorder tuh banyak deh macam-macam,' ungkapnya, menekankan betapa kompleksnya isu ini.

Budi menekankan bahwa rendahnya tingkat skrining seringkali menyebabkan banyak masalah kesehatan jiwa pada anak tidak terdeteksi. Dengan hasil ini, diharapkan kesadaran masyarakat terkait pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak semakin meningkat.

Peningkatan Pikiran Bunuh Diri di Kalangan Remaja

Kementerian Kesehatan mencatat adanya peningkatan yang signifikan dalam jumlah remaja yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri. Dari hasil survei kesehatan global pelajar, persentase mereka yang berpikir untuk bunuh diri meningkat dari 5,4% menjadi 8,5%.

Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN

Cobalah dua kali lipat, yang mencoba bunuh diri juga meningkat dari 3,9% menjadi 10,7%. Menurut Budi, terdapat berbagai faktor yang berkontribusi pada situasi ini, termasuk tekanan dari lingkungan keluarga dan sosial.

'Yang nomor satu, surprisingly bukan dari psikologi anaknya tapi dari keluarganya,' jelasnya, menunjukkan bahwa faktor eksternal sangat memengaruhi kesehatan mental anak.

Budi juga menyoroti faktor perundungan di lingkungan sekolah dan tekanan akademik sebagai penyebab utama gangguan kesehatan mental di kalangan anak dan remaja.

Langkah-Langkah yang Ditempuh Oleh Kementerian Kesehatan

Menanggapi temuan tersebut, Kementerian Kesehatan berencana memperluas program skrining kesehatan mental di sekolah-sekolah. 'Mudah-mudahan dari 7 juta bisa naik 14 juta terus 25 juta,' harap Budi, untuk memastikan deteksi masalah kesehatan jiwa secara dini.

Kementerian juga menyiapkan layanan bantuan darurat bagi anak yang mengalami tekanan psikologis. Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan dukungan dan penanganan yang cepat serta efektif bagi mereka yang membutuhkan.

Layanan konseling krisis kini tersedia melalui hotline kesehatan, di mana anak-anak yang merasa tertekan atau memiliki niatan bunuh diri dapat menghubungi dan mendapatkan bantuan langsung. 'Ada Healing 119 ini kayak call center-nya kita,' tambah Budi.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Pemblokiran Jalan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU