Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei baru saja dilantik sebagai pemimpin tertinggi Iran, menggantikan ayahnya yang meninggal dunia akibat serangan dari Amerika Serikat dan Israel.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Pelantikan ini dilakukan oleh Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior, menunjukkan bahwa kekuatan garis keras di negara tersebut masih tetap bertahan di tengah situasi yang penuh gejolak.
Pemilihan dan Latar Belakang Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei, seorang ulama berusia 56 tahun, terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia. Pemilihan dilakukan oleh Majelis Pakar yang terdiri dari 88 ulama senior, menandakan kekuatan garis keras yang terus mendominasi struktur kekuasaan di Iran.
Dalam sebuah video, anggota Majelis Pakar, Mohsen Heidari Alekasir, menegaskan bahwa pemilihan Mojtaba didasarkan pada indikasi dari mendiang Khamenei bahwa pemimpin harus 'dibenci oleh musuh'.
Pernyataan ini merujuk pada pandangan negatif yang dimiliki oleh AS, di mana mantan Presiden Donald Trump menyebut Mojtaba sebagai 'pilihan yang tidak dapat diterima'. Sejak awal kariernya, Mojtaba telah menjalin kedekatan dengan pasukan keamanan, khususnya Garda Revolusi Iran (IRGC), yang meningkatkan pengaruhnya di ranah politik.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Menandai Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Peran dan Tantangan di Depan
Sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba memiliki kekuasaan untuk mengambil keputusan akhir dalam berbagai urusan negara. Ini mencakup kebijakan luar negeri serta program nuklir yang menjadi fokus perhatian kekuatan Barat.
Mojtaba menghadapi tantangan besar dalam menghadapi ketidakpuasan yang meluas di kalangan masyarakat, yang mendambakan kebebasan lebih besar. Terlepas dari tindakan keras yang dijalankan oleh pihak keamanan, terdapat potensi demonstrasi yang akan meningkat pasca pelantikannya.
Mojtaba lahir di Mashhad dan terlibat aktif dalam pergerakan melawan rezim Shah. Meskipun jejak politiknya belum sekuat figur-figur lain, keberadaannya dalam berbagai aksi loyalis di Iran menegaskan posisi dan pengaruhnya.
Kontroversi dan Kritikan
Mojtaba Khamenei tidak luput dari kritik terkait kualifikasi dan latar belakangnya sebagai pemimpin tertinggi. Banyak yang meragukan kapasitas keagamaannya, karena gelar Hojjatoleslam-nya masih berada di bawah pangkat Ayatollah.
Meski dibayangi banyak kritik, Mojtaba tetap dianggap sebagai kandidat utama untuk posisi ini, terutama setelah kematian kandidat lainnya, termasuk mantan Presiden Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter pada tahun 2024.
Departemen Keuangan AS juga menerapkan sanksi terhadapnya pada tahun 2019, dengan mencatat bahwa dia mewakili pemimpin tertinggi dalam kapasitas resmi meskipun belum diangkat secara formal ke posisi pemerintahan.
Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: