Negara Turki diidentifikasi sebagai salah satu kemungkinan sasaran serangan oleh Amerika Serikat dan Israel setelah Iran. Hal ini disampaikan oleh Farhad Ibragimov, seorang pengamat geopolitik dari Fakultas Ekonomi Universitas RUDN, Rusia.
Baca juga: Kemenperin Konfirmasi iPhone 17 Belum Ajukan Izin Penjualan di Indonesia
Pernyataan ini merujuk pada komentar mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, yang menilai Turki sebagai ancaman strategis bagi keamanan nasional Israel dan memerlukan perhatian lebih dari sekutu-sekutunya.
Pernyataan Bennett dan Ancaman Terhadap Turki
Naftali Bennett menyebut Turki sebagai negara yang tidak hanya mendukung Iran tetapi juga menciptakan kolaborasi dengan kelompok-kelompok yang dianggap teroris oleh Israel. Ia mendeskripsikan Presiden Recep Tayyip Erdogan sebagai seorang 'musuh yang canggih dan berbahaya' yang berusaha meminggirkan posisi Israel.
Dalam wawancara yang dilansir oleh RT, Bennett menyerukan Israel dan sekutunya untuk mengembangkan kebijakan penahanan yang komprehensif, tidak hanya terhadap Teheran tetapi juga terhadap Ankara. Ia juga mengisyaratkan perlunya Israel untuk merumuskan sikap resmi yang menganggap Turki sebagai negara musuh.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Pertimbangan Penting untuk Pelari
Poros Politik Islam dan Hubungan Internasional
Bennett mengacu pada apa yang dinamainya sebagai 'poros mengerikan' dari kekuatan politik Islam yang melibatkan Turki dan Qatar, aktif di wilayah Suriah dan Gaza. Menurutnya, kolaborasi ini menciptakan jaringan yang saling menguntungkan bagi kelompok-kelompok yang dianggap berbahaya oleh Israel.
Ibragimov mencatat bahwa Bennett juga mengungkapkan dugaan tentang pengaruh finansial dari Doha kepada beberapa pejabat Israel, yang menambah lapisan kompleksitas dalam hubungan regional ini. Konteks hubungan internasional antara negara-negara Muslim dan Israel menjadi semakin rumit, terutama setelah Erdogan mengambil alih kepemimpinan dan menegaskan ideologi politik yang mendukung Palestina.
Sejarah Kemerosotan Hubungan Turki-Israel
Kemerosotan hubungan antara Turki dan Israel telah berlangsung secara bertahap sejak Erdogan menjabat sebagai Presiden. Kebijakan luar negeri Ankara yang lebih ideologis berpengaruh langsung terhadap hubungan bilateral dengan Israel.
Satu peristiwa penting yang mencolok dalam dinamika ini adalah insiden Mavi Marmara pada mei 2010, ketika kapal tersebut berusaha menerobos blokade laut Gaza untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan. Israel menilai insiden ini sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya.
Kekerasan yang terjadi dalam insiden tersebut mengakibatkan tewasnya beberapa warga Turki, yang kemudian memicu protes besar-besaran di Turki yang menuntut permintaan maaf dan kompensasi dari Israel atas insiden tersebut.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: