Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel diperkirakan akan mengganggu pasokan energi dan logistik di Indonesia.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama dari Indonesia di Major League Soccer
Dampak ini mengancam industri pariwisata dengan berkurangnya jumlah wisatawan dari Timur Tengah.
Kenaikan Harga Minyak Dunia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa konflik ini akan berpengaruh signifikan terhadap harga minyak global. Ia menyebutkan, 'Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraine kan naik.'
Menurutnya, kegiatan pasokan minyak akan terganggu, terutama akibat penutupan Selat Hormuz. Meskipun begitu, ia mencatat, 'supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya.'
Dalam situasi demikian, kenaikan harga minyak tampaknya menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan. Oleh karena itu, pemerintah sudah melakukan langkah proaktif untuk mengamankan pasokan minyak dari negara lain, termasuk dari perusahaan-perusahaan minyak di AS.
Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Dampak Terhadap Logistik dan Transportasi
Airlangga menegaskan bahwa sektor transportasi dan logistik akan mengalami gangguan akibat konflik ini. Ia menjelaskan, 'Ja pertama yang terganggu kan pasti supply minyak. Yang kedua transportasi logistik.'
Gangguan dalam pasokan minyak dapat menyebabkan efek domino ke sektor logistik, yang krusial untuk perekonomian nasional. Ketidakstabilan pasokan dapat dirasakan di berbagai sektor lainnya, meningkatkan biaya dan waktu distribusi barang.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau situasi dan mengevaluasi dampak yang ditimbulkan, guna memastikan kelangsungan distribusi barang dan jasa di dalam negeri.
Tantangan bagi Sektor Pariwisata
Industri pariwisata Indonesia menghadapi tantangan yang berat akibat konflik ini. Airlangga menekankan bahwa turisme dari Timur Tengah kemungkinan akan terhambat, yang menjadi salah satu dampak negatif dari perang tersebut.
Ia menyatakan, 'Kita melihat turisme akan sangat terganggu.' Berkurangnya jumlah wisatawan dari Timur Tengah berpotensi memperburuk kondisi sektor pariwisata yang sudah rentan.
Pemerintah diharapkan dapat merespons situasi ini secara strategis untuk menghindari kerugian yang lebih besar, termasuk dengan mencari pasar alternatif untuk menggantikan kehilangan potensi wisatawan.
Baca juga: Perekrutan Kiper Baru oleh Manchester United dan Manchester City Jelang Penutupan Bursa Transfer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: