Ukraina diperkirakan membutuhkan dana sebesar 588 miliar dolar AS, yang setara dengan Rp 9,8 kuadriliun, untuk memulihkan kerusakan yang disebabkan oleh invasi Rusia. Angka ini dirilis dalam laporan oleh Bank Dunia dan lembaga-lembaga terkait pada 23 Februari 2026.
Baca juga: Apple Diperkirakan Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Kenaikan ini mencapai 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang dipicu oleh intensitas serangan Rusia yang lebih meningkat, khususnya pada infrastruktur energi, sehingga mengakibatkan hilangnya akses layanan dasar bagi jutaan warga.
Kenaikan Estimasi Kebutuhan Pemulihan
Laporan bersama dari Bank Dunia, pemerintah Ukraina, PBB, dan Komisi Eropa menunjukkan bahwa estimasi biaya pemulihan Ukraina meningkat secara signifikan. Kenaikan angka tersebut dipicu oleh serangan berkelanjutan dari Rusia, yang menyebabkan kehancuran lebih parah pada infrastruktur dan ekonomi Ukraina.
Sebagian besar dana yang diperoleh dari sekutu Barat difokuskan pada pembiayaan operasional perang dan menjaga stabilitas ekonomi, menjadikan alokasi untuk pemulihan sangat minim. Dalam empat tahun konflik ini, banyak kota di Ukraina mengalami kerusakan parah, dengan jutaan warga terpaksa mengungsi.
Data menunjukkan bahwa pergerakan inti untuk pemulihan sangat dibutuhkan saat ini, mengingat kondisi yang semakin berisiko.
Baca juga: Mengenal Finfluencer dan Peranannya dalam Pendidikan Keuangan
Dampak Serangan Terhadap Infrastruktur
Serangan Rusia, khususnya yang menargetkan infrastruktur energi, telah mengakibatkan banyak warga kehilangan akses terhadap listrik dan pemanas, terutama selama musim dingin. Laporan menyebutkan bahwa hingga akhir tahun 2025, satu dari tujuh rumah di Ukraina telah mengalami kerusakan akibat perang.
Sektor transportasi tercatat mengalami kerusakan terbesar dengan perkiraan biaya rekonstruksi mencapai 96 miliar dolar AS. Sektor energi dan perumahan juga mengalami kerugian besar, masing-masing diperkirakan membutuhkan 90 miliar dolar AS untuk pemulihan.
Wilayah Donetsk dan Kharkiv menjadi area yang sangat membutuhkan investasi terbesar dalam proses pemulihan ini, mengingat tingkat kehancuran yang dialami.
Bantuan dari Sekutu dan Rencana Pinjaman
Data dari Institut Kiel menunjukkan bahwa sekutu Barat Ukraina telah mengalokasikan lebih dari 400 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 6,7 kuadriliun, dalam bentuk bantuan keuangan dan militer sejak awal invasi Rusia. Namun, pinjaman Uni Eropa yang direncanakan sebesar 106 miliar dolar AS mayoritas akan digunakan untuk menutupi pengeluaran militer Ukraina.
Laporan juga menekankan pentingnya manajemen bahaya bahan peledak dan pembersihan puing-puing, yang membutuhkan dana sekitar 28 miliar dolar AS untuk menyelesaikannya. Dengan situasi yang ada, pemulihan di ibu kota, Kyiv, diperkirakan memerlukan lebih dari 15 miliar dolar AS agar dapat kembali ke kondisi layak huni.
Aspek penting lainnya termasuk pengawasan untuk memastikan efektivitas penggunaan semua dana yang tersedia.
Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Rumah Uya Kuya Pasca Insiden Perampokan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: