Nemesio Oseguera Cervantes, dikenal sebagai El Mencho, dinyatakan tewas dalam operasi pasukan khusus Meksiko pada 22 Februari 2026. Sebagai pemimpin Jalisco New Generation Cartel (CJNG), kematiannya menandai titik balik dalam dinamika kriminal di Meksiko.
Baca juga: Kasus Tragis Pengemudi Ojek Online Terlibat Oknum Anggota Brimob Menuju Jalur Pidana
Kematian El Mencho segera memicu lonjakan kekerasan di banyak wilayah, saat anggota kartel berusaha mempertahankan kekuasaan mereka. Aksi ini mencerminkan loyalitas yang mendalam terhadap pemimpin yang hilang dan menimbulkan ketidakpastian di masyarakat.
Profil Singkat El Mencho
El Mencho lahir di Aguililla, Michoacán, dan dibesarkan dalam kondisi yang minim. Ia mengambil jalur kriminal awal saat bermigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1980-an.
Selama di AS, El Mencho terlibat dalam drug trafficking dan menjalani hukuman penjara pada tahun 1994 akibat pelanggaran hukum narkotika. Setelah dibebaskan dan diekstradisi kembali ke Meksiko, ia kemudian bergabung dengan Kartel Milenio.
Setelah perpecahan dalam Kartel Milenio, ia mendirikan CJNG pada 2007, berkolaborasi dengan Erick Valencia Salazar, menjadikannya salah satu kekuatan paling dominan di Meksiko.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual Berbasis Kecerdasan Buatan
Kekerasan dan Kapasitas CJNG
CJNG terkenal dengan brutalitas serta keahlian tactical yang tinggi dalam aksinya. Kartel ini telah melakukan serangan yang menyasar berbagai instansi pemerintah, termasuk upaya pembunuhan terhadap kepala kepolisian di pusat Kota Meksiko pada tahun 2020.
Eduardo Guerrero, seorang pakar keamanan, menyatakan bahwa CJNG merupakan ancaman yang signifikan bagi keamanan nasional. Ia menegaskan, 'Mereka memiliki jumlah uang yang sangat besar, senjata generasi terbaru.'
Menurut Badan Pemberantasan Narkoba Amerika Serikat (DEA), CJNG memiliki jangkauan operasional yang setara dengan Kartel Sinaloa dan menjadi pemasok utama narkotika ke berbagai negara, termasuk AS.
Kekacauan Pasca Kematian El Mencho
Kematian El Mencho dipandang sebagai hasil positif bagi Meksiko dan AS, dengan keterlibatan intelijen AS dalam operasi penangkapannya. Pemerintah Meksiko berharap bahwa pencapaian ini dapat mengurangi desakan untuk aksi militer dari pihak AS.
Meski demikian, dampak langsung dari kematiannya adalah peningkatan tingkat kekerasan, ditandai oleh aksi blokade serta pembakaran yang dilakukan oleh loyalisnya di delapan negara bagian, termasuk Jalisco dan Mexico City.
Situasi di Meksiko, terutama di kawasan wisata seperti Puerto Vallarta, menjadi semakin tegang, dengan warga yang mencari perlindungan akibat meningkatnya ketidakamanan yang diakibatkan oleh anggota kartel yang berupaya menjaga pengaruh mereka.
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: