Fenomena lubang tanah raksasa di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, telah meluas hingga mencapai luas 27 ribu meter persegi menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BRIN menegaskan bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh proses longsoran tanah, bukan sinkhole seperti yang dipahami oleh sebagian masyarakat.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Menandai Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa ketidakstabilan tanah di kawasan tersebut disebabkan oleh lapisan material tufa yang rentan untuk runtuh. Proses ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dengan pola erosi yang terlihat dari citra satelit.
Penjelasan Geologis Mengenai Lubang Raksasa
Laporan dari BRIN menunjukkan bahwa lubang besar ini muncul di kawasan yang tidak terdiri dari batu gamping, jenis material yang biasanya memicu terbentuknya sinkhole. Sebaliknya, wilayah Ketol didominasi oleh material tufa yang berasal dari aktivitas Gunung Geurendong yang kini telah tidak aktif.
Adrin Tohari menjelaskan, "Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh." Penelitian awal BRIN menunjukkan bahwa pola erosi dan longsor telah berlangsung secara signifikan dalam kurun waktu bertahun-tahun.
Dalam analisis citra satelit Google Earth sejak tahun 2010, terlihat bahwa lembah kecil di daerah tersebut semakin melebar akibat proses erosi yang berlangsung. Sekalinya kondisi ini terpicu oleh hujan lebat, potensi pengembangan lubang yang lebih besar di area tersebut menjadi semakin nyata.
Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Faktor Penyebab Meluasnya Lubang
Adrin memaparkan bahwa gempa bumi yang terjadi pada tahun 2013 dengan kekuatan 6,2 magnitudo berkontribusi terhadap ketidakstabilan struktur lereng di kawasan tersebut. "Gempa bumi itu diperkirakan memperlemah struktur lereng dan memicu ketidakstabilan yang semakin besar," ujarnya.
Hujan lebat juga diidentifikasi sebagai faktor utama yang memperburuk kondisi tanah. Menurut Adrin, "Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh air, sehingga lapisan tanah kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh."
Selain gempa dan hujan, saluran irigasi perkebunan yang terbuka juga berperan dalam meningkatkan kelembaban lapisan tufa. Faktor ini menambah risiko terjadinya longsor ketika air terus meresap ke dalam.
Upaya Mitigasi dan Rencana Penelitian Selanjutnya
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini tengah melakukan analisis menggunakan citra satelit dan data publik. Adrin mengingatkan perlunya penelitian yang lebih mendalam untuk memastikan penyebab dan dampak dari fenomena tersebut secara detail.
"Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif," jelas Adrin.
Ia juga merekomendasikan agar peta kerentanan gerakan tanah diperbarui setelah peristiwa ini. "Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari," tambahnya.
Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: