Kontroversi Rasisme di Liga Champions: Tuduhan Terhadap Gianluca Prestianni dan Tanggapan Vinicius Junior
Insiden rasisme kembali menghiasi dunia sepak bola internasional, kali ini melibatkan Gianluca Prestianni dan Vinicius Junior pada laga Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Pemblokiran Jalan
Vinicius mengklaim bahwa Prestianni melakukan penghinaan rasial, sementara Prestianni membantah tuduhan tersebut, yang memicu perdebatan di kalangan penggemar dan media.
Kronologi Insiden
Pertandingan Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid pada 18 Februari 2026 menjadi latar belakang insiden yang menghebohkan. Setelah mencetak gol, Vinicius melaporkan telah mengalami hinaan rasial dari Gianluca Prestianni.
Vinicius mengklaim bahwa Prestianni memanggilnya 'monyet', sementara Prestianni menampik tuduhan tersebut, menyatakan bahwa kata yang sebenarnya diucapkannya adalah 'homo'.
Insiden ini menciptakan ketegangan yang berkepanjangan dan mendesak Real Madrid untuk melaporkan masalah ini kepada UEFA, menandakan bahwa survei terhadap rasisme dalam sepak bola masih sangat relevan.
Baca juga: Pihak Unisba dan Unpas Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kampus Saat Kericuhan
Reaksi Publik dan Media
Berita mengenai insiden ini langsung menjadi sorotan utama media olahraga, yang memperdebatkan integritas serta dampak dari rasisme dalam olahraga. Banyak pengamat serta penggemar sepak bola mengecam tindakan tersebut, menyadari bahwa isu rasisme merupakan masalah serius.
Jose Chilavert, kiper legendaris Paraguay, ikut berkomentar dengan mengecam Vinicius, menganggapnya sebagai provokator. Dalam wawancaranya di program La Oral Deportiva, ia mempertanyakan mengapa Vinicius kerap terlibat dalam controversy.
Chilavert menyatakan bahwa '90 Persen pemain Madrid berkulit hitam, mengapa mereka tidak pernah memiliki masalah dan Vinicius selalu bermasalah dengan semua orang?' Hal ini menyoroti pandangan yang berbeda terhadap permasalahan rasisme dalam tim.
Tuduhan dan Pembelaan
Dalam kontroversi ini, Prestianni berusaha mempertahankan diri di tengah arus kritik yang mengalir deras. Dia mengklaim bahwa kesulitan untuk membuktikan tindakan rasisme disebabkan oleh cara komunikasi di lapangan saat pertandingan.
Di sisi lain, Vinicius menginginkan dunia sepak bola yang bebas dari rasisme. Dalam beberapa wawancara sebelumnya, ia mengungkapkan mengalami diskriminasi dalam berbagai bentuk yang tidak dapat diterima dalam olahraga.
Chilavert sekali lagi mengemukakan kritiknya, menyebut Vinicius sebagai seorang rasialis, mempertanyakan apakah dirinya ingin melihat orang kulit putih menderita. Pernyataan yang provokatif ini semakin memperburuk suasana dan menambah kompleksitas dalam isu ini.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: