Serangan jantung dan kematian jantung mendadak sering kali disamakan oleh masyarakat, padahal kedua kondisi ini memiliki mekanisme dan pemicu yang berbeda. Menurut Dr. Ardian Rizal, Sp.JP(K)-FIHA, penting untuk memahami perbedaan tersebut guna mencegah risiko yang lebih besar terhadap kesehatan jantung.
Baca juga: Kemenperin Konfirmasi iPhone 17 Belum Ajukan Izin Penjualan di Indonesia
Kematian jantung mendadak berhubungan dengan masalah pada sistem kelistrikan jantung, sementara serangan jantung berkaitan dengan sumbatan aliran darah di pembuluh koroner. Upaya edukasi mengenai gejala awal dari kedua kondisi ini sangat penting demi keselamatan masyarakat.
Perbedaan Fundamental antara Serangan Jantung dan Kematian Jantung Mendadak
Menurut Dr. Ardian Rizal, perbedaan utama antara serangan jantung dan kematian jantung mendadak terletak pada fungsi jantung yang terganggu. Kematian jantung mendadak umumnya disebabkan oleh gangguan listrik pada jantung, sedangkan serangan jantung terkait dengan penyumbatan di pembuluh darah koroner.
Data medis menunjukkan bahwa sekitar 26,3 persen kematian jantung disebabkan oleh aritmia atau gangguan irama jantung. Angka ini menunjukkan pentingnya kesadaran akan masalah jantung, bahkan pada individu yang tampak sehat.
Dr. Ardian menekankan perlunya edukasi lebih tentang gejala yang muncul pada kedua keadaan ini. Memahami tanda-tanda awal, seperti detak jantung tidak teratur, merupakan langkah preventif yang vital.
Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Kasus Atlet: Kolaps Saat Bertanding
Kasus kolapsnya atlet profesional dalam kondisi sehat menjadi contoh nyata perbedaan antara serangan jantung dan kematian mendadak. Aritmia sering menjadi penyebab henti jantung mendadak tersebut, bukan karena hambatan aliran darah.
Menurut Dr. Ardian, 'Pasien dengan gangguan irama jantung fatal peluang bertahan hidupnya kurang dari satu persen jika tidak segera tertangani.' Hal ini menunjukkan bagaimana gangguan irama jantung dapat terjadi tanpa memandang usia.
Kasus ekstrem lain di mana kerusakan otot jantung menyebabkan gangguan listrik juga menarik perhatian. Dalam konteks ini, edukasi terhadap risiko aritmia perlu ditingkatkan untuk mencegah kejadian serupa terjadi.
Deteksi Dini dan Pencegahan
Dr. Ardian menggarisbawahi pentingnya memahami gejala gangguan irama jantung sebagai langkah deteksi dini. Melalui pemahaman yang baik, risiko kematian mendadak akibat aritmia dapat diminimalisasi.
Pemeriksaan kesehatan rutin serta konsultasi dengan dokter spesialis sangat dianjurkan untuk mendeteksi potensi masalah jantung lebih awal. Pasien dengan riwayat penyakit jantung koroner khususnya harus lebih waspada.
Edukasi masyarakat mengenai gejala awal dan tindakan yang diperlukan saat gejala muncul diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan tidak mengabaikan masalah kesehatan jantung.
Baca juga: Mengenal Finfluencer dan Peranannya dalam Pendidikan Keuangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: