Rabu, 11 FEBRUARI 2026 • 10:18 WIB

Ritual Ma'bua' Pandji Pragiwaksono: Permohonan Maaf kepada Leluhur Toraja

Author

Ritual Ma'bua' Pandji Pragiwaksono: Permohonan Maaf kepada Leluhur Toraja

Komika Pandji Pragiwaksono melaksanakan ritual permohonan maaf kepada leluhur Toraja setelah adanya sidang adat terkait pernyataannya yang dianggap menghina budaya lokal.

Baca juga: Pihak Unisba dan Unpas Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kampus Saat Kericuhan

Pada sidang tersebut, Pandji dijatuhi denda berupa satu ekor babi dan lima ekor ayam, yang merupakan persembahan dalam ritual adat ma'bua' di wilayah Pa'buaran Tongkonan Kaero, Sangalla'.

Proses Sidang Adat

Sidang adat yang dihadiri oleh Pandji Pragiwaksono berlangsung pada hari Selasa lalu, di mana wasit adat, Yusuf Sura' Tandirerung, memberikan penjelasan terkait keputusan yang diambil.

Yusuf menyatakan, "Kita tidak berikan sanksi berat karena dia tidak sengaja dan sudah minta maaf. Sanksinya hanya satu ekor babi dan lima ayam."

Denda tersebut diperuntukkan bagi upacara permohonan maaf yang dilakukan untuk leluhur, di lokasi yang telah ditentukan, dan bertujuan untuk memulihkan martabat suku Toraja.

Baca juga: Apple Diperkirakan Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray

Makna di Balik Ritual Adat

Ritual adat Ma'bua' memiliki tujuan untuk menjalin kembali hubungan yang harmonis antara manusia dan leluhur, serta menunjukkan penghormatan terhadap tradisi dan budaya yang sudah ada.

"Ritual yang kita lakukan singkatnya adalah pemulihan harmonisasi dan janji kepada leluhur," ungkap Yusuf. Ia menambahkan bahwa kesalahan serupa di masa depan akan berakibat lebih berat.

Pentingnya pengakuan dan penyesalan terhadap kesalahan yang dilakukan tampak jelas dalam konteks budaya yang sangat sensitif ini.

Pengakuan dan Tindakan yang Ditempuh

Pandji Pragiwaksono sebelumnya telah mengakui kesalahannya terkait pemahaman mengenai ritual adat Rambu Solo, yang berkontribusi pada kesalahan yang telah dibuat.

Ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di hadapan masyarakat dan tokoh adat, menyadari pentingnya menjaga keakuratan dan sensitivitas saat membawakan materi terkait tradisi masyarakat.

Permohonan maaf ini disambut baik oleh masyarakat dan tokoh adat setempat, yang berharap dapat memperbaiki hubungan antara Pandji dan komunitas Toraja.

Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran BEM SI: ‘Indonesia (C)emas’ Digelar pada 2 September 2025

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU