Armada kereta listrik Commuter Line (KRL) yang beroperasi di wilayah Jabodetabek memiliki mayoritas kereta yang berusia tua, mencapai 41 tahun. Hal ini diungkapkan oleh Dirjen Perkeretaapian, Bobby Rasyidin, dalam rapat bersama Komisi XI di Gedung DPR RI, Jakarta.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN
Dari 908 armada KRL yang ada, usia kereta berkisar antara 34 hingga 41 tahun, dengan sebagian besar merupakan kereta bekas impor dari Jepang.
Kondisi KRL yang Ada
Menurut data yang disampaikan oleh Bobby Rasyidin, kondisi armada KRL saat ini cukup memprihatinkan. Dari total 908 armada, sekitar 780 unit merupakan kereta bekas impor dari JR East Jepang, sedangkan 128 unit berasal dari Tokyo Metro.
Bobby menegaskan bahwa kereta-kereta ini telah memasuki usia tua, yang dapat berdampak pada kinerja dan keselamatan operasional. Oleh karena itu, diperlukan langkah peremajaan armada untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam rapat tersebut, Bobby juga menyampaikan pentingnya investasi lebih lanjut untuk memperbarui armada, meskipun sebelumnya pemerintah telah melakukan pengadaan kereta baru.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer
Pengadaan Kereta Baru
Dalam kesempatan yang sama, Bobby menjelaskan bahwa KAI telah mengambil langkah peremajaan dengan mendatangkan sejumlah kereta baru. Sampai saat ini, KAI telah mengoperasikan 180 unit kereta baru dari dua pabrikan.
Kereta baru ini terdiri dari 132 unit hasil produksi CRRC Sifang dan 48 unit dari PT INKA. Menurut Bobby, 'Yang telah kita operasikan dari kereta baru itu adalah dari CRRC Sifang, yang ada sebanyak 132 unit atau 11 train set, dan INKA sebanyak 48 unit atau 4 train set.'
Meskipun jumlah kereta baru masih terbatas, diharapkan dapat memperbaiki kondisi pelayanan transportasi di Jabodetabek, yang saat ini tengah mengalami tantangan besar.
Masa Depan KRL di Jabodetabek
Dengan armada KRL yang sudah uzur, tantangan bagi KAI adalah memenuhi harapan masyarakat akan pelayanan transportasi yang lebih baik. Bobby mengingatkan bahwa berkelanjutan layanan kereta sangat bergantung pada upaya modernisasi dan peremajaan armada.
KAI diharapkan tidak hanya fokus pada penambahan armada baru, tetapi juga melakukan perawatan intensif terhadap kereta yang ada untuk memastikan keselamatan penumpang. 'Kita tidak hanya perlu menambah jumlah kereta baru, tetapi juga menjaga dan merawat yang sudah ada,' ujarnya.
Kedepannya, KAI perlu terus mengevaluasi dan merencanakan investasi dalam infrastruktur serta armada untuk memenuhi harapan masyarakat di Jabodetabek, terutama dalam hal ketepatan waktu dan kenyamanan dalam perjalanan.
Baca juga: Polisi Lakukan Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: