Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 21:53 WIB

Risiko Panas Ekstrem Terhadap Ketahanan Indonesia dalam Perubahan Iklim

Author

Risiko Panas Ekstrem Terhadap Ketahanan Indonesia dalam Perubahan Iklim

Studi terbaru dari Universitas Oxford mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap fenomena panas ekstrem akibat perubahan iklim.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Menandai Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang

Ketika suhu global melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius, dampak yang akan dirasakan di wilayah ini diperkirakan sangat signifikan.

Dampak Panas Ekstrem yang Mengancam

Berdasarkan penelitian, lonjakan suhu ekstrem tidak hanya berpengaruh di negara tropis, tetapi juga menyebabkan peningkatan di wilayah beriklim dingin, seperti Austria dan Kanada.

Dr. Jesus Lizana, Profesor Madya di bidang Ilmu Rekayasa dan penulis utama studi, menegaskan bahwa perubahan dalam permintaan pendinginan dan pemanasan terjadi sebelum ambang batas 1,5 derajat Celsius. 'Ini akan memerlukan langkah-langkah adaptasi signifikan yang harus diterapkan sejak dini,' ungkapnya.

Kenaikan suhu ini berdampak serius pada kebutuhan sistem pendinginan di Indonesia, dengan proyeksi bahwa banyak rumah akan memerlukan pendingin ruangan dalam waktu lima tahun.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China

Risiko bagi Berbagai Sektor

Radhika Khosla, peneliti dari Smith School of Enterprise and the Environment, menambahkan bahwa melampaui kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius berpotensi berdampak besar pada sektor pendidikan, kesehatan, migrasi, dan pertanian.

'Pembangunan berkelanjutan dengan target net zero tetap menjadi satu-satunya jalan yang terbukti untuk membalikkan tren meningkatnya hari-hari panas ekstrem,' tegasnya.

Untuk Indonesia, risiko peningkatan suhu ekstrem sangat berpeluang memengaruhi produktivitas pertanian dan kesehatan publik yang secara keseluruhan memerlukan perhatian dan perencanaan matang.

Data Terbuka untuk Perencanaan Berkelanjutan

Studi ini juga menyajikan dataset terbuka mengenai kebutuhan pemanasan dan pendinginan global, yang mencakup 30 peta dunia dengan resolusi sekitar 60 kilometer.

Dataset ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi perencanaan pembangunan berkelanjutan dan kebijakan iklim di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dengan data tersebut, pemangku kepentingan dapat merumuskan kebijakan yang lebih efektif dalam mengatasi tuntutan perubahan iklim serta dalam membangun infrastruktur yang lebih tahan terhadap panas ekstrem.

Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU