Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, mengungkapkan penyesalan yang mendalam terkait insiden tragis yang dialami seorang siswa SD berinisial YBS berusia 10 tahun yang mengakhiri hidupnya. Kejadian ini diduga berakar dari ketidakmampuan untuk membeli alat tulis sekolah, menggugah perhatian tentang isu sosial di masyarakat.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN
Melki menyoroti bahwa pemerintah provinsi dan kabupaten telah gagal dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya terhadap masyarakat. Insiden ini dianggap sebagai sinyal bagi pemerintah untuk lebih tanggap dalam menangani permasalahan yang dihadapi oleh warga.
Pernyataan Gubernur NTT mengenai Kegagalan Pemerintah
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menyatakan, 'Ini kan kita tidak tahu apa yang salah, tapi pranata sosial kita berarti gagal urus model beginian,' saat acara peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa di Kupang. Di tengah suasana serius, ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kesalahan dalam penanganan insiden ini.
Melki mengajak semua pihak, termasuk pejabat daerah, untuk bertanggung jawab atas situasi yang ada. Ia menambahkan, 'Saya minta kita semua hadir di tempat ini, para pejabat-pejabat daerah, termasuk diri saya sendiri kayak gini cukup terakhir sudah,' menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mencari solusi.
Pernyataan ini mencerminkan urgensi untuk melakukan pemeriksaan terhadap struktur sosial yang ada dan melihat di mana letak kesalahan yang telah terjadi.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Pemblokiran Jalan
Kronologi Kasus YBS dan Komentar Ibu
YBS, siswa kelas IV SD, diduga mengambil keputusan fatal setelah tidak mendapatkan dukungan finansial untuk membeli alat tulis sekolah. Ia meminta uang sebesar Rp10.000 kepada ibunya, namun tidak mendapatkan respon yang diharapkan.
Ibu YBS, seorang petani dan buruh serabutan, mengaku tidak memiliki uang untuk memenuhi permintaan anaknya. Pernyataan ini mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi banyak keluarga di daerah tersebut.
Kondisi ini menciptakan situasi di mana anak merasa tidak berdaya, dan membawa kepada langkah ekstrem, yang menunjukkan betapa pentingnya dukungan dasar bagi masyarakat.
Dampak dan Harapan untuk Perbaikan
Menanggapi insiden ini, Melki Laka Lena menyatakan rasa malunya sebagai gubernur. 'Malu saya sebagai gubernur model ini. Masa ada warga negara mati hanya karena model begini,' ungkapnya, menunjukkan keprihatinannya terhadap situasi yang terjadi.
Ia menekankan perlunya perbaikan nyata dalam pengelolaan bantuan sosial dan pelayanan publik, agar tragedi serupa tidak terulang. 'Sumber daya yang telah dialokasikan tidak seharusnya berujung pada kehilangan nyawa orang-orang miskin,' tambahnya.
Melki berkomitmen untuk mencari tahu sumber masalah ini dan menyatakan, 'Kalaupun saya salah, saya siap dituntut, kesalahan itu ada dimana, siap dia dituntut,' menunjukkan kesediaannya untuk mengambil tanggung jawab.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: