Presiden Prabowo Subianto menekankan peran krusial pemahaman sejarah bagi para pemimpin di Indonesia dalam menghadapi kompleksitas tantangan bangsa. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 2026 yang digelar di Sentul, Bogor.
Baca juga: Pemecatan Anggota Polri Setelah Kematian Pengemudi Ojek Online
Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti keraguan akan keberadaan Indonesia sebagai negara kesatuan dan menggarisbawahi pentingnya komitmen para pemimpin untuk memenuhi harapan rakyat akan kehidupan damai dan harmonis.
Kepemimpinan Berbasis Sejarah
Presiden Prabowo Subianto menggarisbawahi bahwa kepemimpinan harus berlandaskan pada pemahaman sejarah sebagai fondasi bagi pengabdian kepada rakyat. Seiring dengan itu, pemimpin di semua tingkatan diajak untuk memahami peran dan tanggung jawab mereka dalam menjaga kesatuan bangsa.
Ia mengemukakan bahwa keraguan mengenai eksistensi Indonesia sebagai negara kesatuan seringkali timbul dari beragam perbedaan etnis, ras, agama, dan bahasa. Namun, kondisi saat ini menunjukkan bahwa Indonesia masih berdiri sebagai negara yang utuh.
Prabowo mengungkapkan, "Banyak yang mengatakan Indonesia tidak mungkin, an impossible nation," mengindikasikan perlunya penyatuan berbagai kelompok etnis dan budaya dalam satu visi bersama.
Baca juga: Polisi Lakukan Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Harapan Rakyat Terhadap Pemimpin
Dalam pidatonya, Prabowo menjelaskan harapan rakyat terhadap pemimpin yang adil dan bertugas demi kepentingan umum, bukan hanya kelompok tertentu. Pemimpin yang dipercaya harus memiliki integritas dan dapat diandalkan.
Ia juga menekankan bahwa rakyat mendambakan kehidupan yang damai dan harmonis, serta ingin agar para pemimpin memahami tanggung jawab mereka dalam memenuhi harapan tersebut.
Prabowo juga mengatakan, "Mereka yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah," menekankan pentingnya pembelajaran dari pengalaman masa lalu dalam menjalankan kepemimpinan.
Dinamika Global dan Tanggung Jawab Negara
Dalam membahas dinamika global, Prabowo mengungkapkan kontradiksi yang terjadi di banyak negara besar yang mengklaim menjunjung nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Ia mencermati bahwa banyak tragedi kemanusiaan terjadi tanpa respon nyata dari negara-negara ini.
Dengan tegas, ia menyatakan, "Puluhan ribu wanita, orang tua, anak-anak tidak berdosa dibantai," mengkritik ketidakberdayaan sebagian besar negara dalam merespons krisis kemanusiaan.
Prabowo menegaskan bahwa pemimpin di Indonesia harus peka terhadap situasi global dan tidak boleh abai terhadap dinamika yang terjadi, serta harus memetik pelajaran dari sejarah untuk menjaga stabilitas domestik.
Baca juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: