Jumat, 30 JANUARI 2026 • 16:44 WIB

Usaha Penyelamatan Macan Tutul yang Terancam di Hutan Sanggabuana Terus Berlangsung

Author

Usaha Penyelamatan Macan Tutul yang Terancam di Hutan Sanggabuana Terus Berlangsung

Peluang hidup macan tutul yang diduga ditembak di Hutan Sanggabuana dilaporkan sangat kecil. Meski demikian, pencarian oleh tim gabungan terus dilakukan untuk menyelamatkan satwa yang terancam tersebut.

Baca juga: Polisi Lakukan Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni

Kondisi macan tutul yang terlihat pincang dan kurus menimbulkan kekhawatiran, tetapi upaya pencarian tetap dilanjutkan untuk menentukan nasibnya.

Kondisi Macan Tutul dan Upaya Pencarian

Macan tutul yang terpaksa mengalami kesulitan, nampak pincang dan kurus dalam rekaman kamera jebak yang dipasang oleh tim penyelamat. "Tapi melihat kondisinya, kemungkinan bisa berburu sangat kecil dan kemungkinan masih hidup sangat tipis," jelas Bernard T. Wahyu Wiryanta, Pembina Sanggabuana Conservation Foundation (SCF).

Tim pencari yang terdiri dari SCF, TNI AD, dan BBKSDA Jabar melanjutkan penyisiran wilayah hutan dalam harapan menemukan macan tutul tersebut dalam keadaan hidup. "Harapan kami ketemu dalam kondisi hidup biar bisa dievakuasi dan direhabilitasi," harap Bernard.

Pencarian ini dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa waktu terus berjalan dan risiko pada keberadaan satwa tersebut semakin besar. Dalam upaya ini, Bernard juga khawatir bahwa macan tutul tersebut mungkin sudah mati dan diambil oleh pemburu.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025

Penegakan Hukum atas Perburuan Liar

Dalam rangka penegakan hukum, lima pemburu yang beroperasi di kawasan Hutan Sanggabuana telah ditangkap. "Hasil pemeriksaan mengungkap bahwa kelompok ini biasa melakukan perburuan di rangkaian Gunung Karadak, Gunung Lesang, Gunung Haur, hingga Gunung Opat," ungkap Kasat Reskrim AKP M. Nazal Fawwas.

Kelima pelaku dijerat dengan Pasal 340 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 mengenai perburuan tanpa izin. Kepolisian juga menyita barang bukti berupa senjata api, anjing pemburu, dan rekaman kegiatan perburuan.

Kasus ini kemudian dialihkan ke Polres Purwakarta untuk penyidikan lebih mendalam, mengingat lokasi perburuan berada dalam wilayah hukum tersebut.

Dampak dan Harapan Keberlanjutan Konservasi

Pelimpahan kasus ke Polres Purwakarta menjadi sorotan penting dalam upaya perlindungan kawasan konservasi di Gunung Sanggabuana. Kerja sama antara Perum Perhutani dan SCF dalam pengelolaan kawasan dianggap signifikan untuk menghadapi tantangan perlindungan satwa.

Teknologi kamera jebak yang digunakan sebagai alat pemantauan diharapkan tidak hanya memberikan data keberadaan satwa, tetapi juga berfungsi sebagai bukti hukum untuk melawan perburuan liar. Ini diharapkan menjadi bagian dari sistem peringatan dini dalam usaha konservasi.

Dengan harapan agar kasus ini berjalan transparan dalam proses hukum, banyak pihak menantikan pelaksanaan hukum yang dapat memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan perburuan satwa yang dilindungi.

Baca juga: Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Kecil

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU