Monsun Asia yang berasal dari Laut China Selatan telah menjadi faktor utama dalam cuaca ekstrem yang melanda Indonesia baru-baru ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa hujan lebat di sejumlah wilayah dapat dikaitkan dengan fenomena ini.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama dari Indonesia di Major League Soccer
BMKG juga mengindikasikan bahwa angin yang mengalir ke Indonesia dipengaruhi oleh seruakan dingin dari Siberia, yang dapat meningkatkan aktivitas hujan dalam waktu dekat.
Pengaruh Monsun Asia terhadap Cuaca di Indonesia
Monsun Asia memiliki peran yang signifikan dalam dinamika cuaca di Indonesia. Menurut BMKG, masa udara lembab yang dibawa oleh monsun ini meningkatkan pembentukan awan hujan di seluruh wilayah selatan negara.
BMKG menjelaskan bahwa angin ini melewati Selat Karimata dan berinteraksi dengan efek pendinginan dari dataran tinggi Siberia, yang berujung pada peningkatan curah hujan di daerah seperti Sumatera, Jawa, dan Bali.
Laporan tahunan menunjukkan bahwa aktivitas monsun ini secara keseluruhan mengubah pola cuaca di Indonesia. Dalam sepekan mendatang, potensi peningkatan aktivitas monsun diharapkan untuk terus bertahan, yang membuat kemungkinan hujan ekstrem semakin tinggi.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025
Siklon Tropis dan Dampaknya
BMKG juga melaporkan adanya Bibit Siklon Tropis 91S dan 92P yang terdeteksi di Samudra Hindia. Keberadaan kedua siklon ini berpotensi memperkuat daerah konvergensi hujan di bagian selatan Indonesia.
Daerah yang berpotensi mengalami hujan lebat mencakup Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dengan kondisi ini, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem.
Siklon tropis ini menambah kompleksitas pada sistem cuaca yang ada, sehingga tantangan dalam memprediksi cuaca dan upaya mitigasi bencana alam semakin meningkat.
Prediksi Cuaca untuk Sebuah Minggu ke Depan
Prospek cuaca di Indonesia selama periode 26-29 Januari 2026 diperkirakan akan dipengaruhi oleh dinamika atmosfer global. BMKG menyatakan bahwa fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) saat ini dalam fase negatif dengan indikasi La Niña yang lemah.
Kondisi ini dapat meningkatkan pasokan uap air yang diperlukan untuk pembentukan hujan, terutama di bagian timur Indonesia. BMKG memperkirakan bahwa potensi cuaca ekstrem di seluruh daerah masih tinggi.
Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap hujan sedang hingga lebat di beberapa daerah, termasuk Aceh, Banten, dan Papua. Peringatan dini juga diberikan untuk potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang yang mungkin menggangu aktivitas harian.
Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: