Rabu, 14 JANUARI 2026 • 17:45 WIB

Reaksi China Terhadap Ancaman Tarif Impor Trump ke Iran

Author

Reaksi China Terhadap Ancaman Tarif Impor Trump ke Iran

Ketegangan geopolitik global meningkat seiring dengan ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menerapkan tarif impor sebesar 25% terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran.

Baca juga: Polisi Lakukan Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni

Langkah ini diambil sebagai tanggapan atas krisis kemanusiaan yang melanda Iran, di mana banyak pihak menilai bahwa rezim Teheran telah melakukan tindakan brutal terhadap para demonstran.

Ancaman Tarif Trump

Pada platform Truth Social, Trump mengumumkan bahwa kebijakan tarif 25% akan segera diterapkan untuk semua negara yang berbisnis dengan Iran. Kebijakan ini berbeda dari sanksi sebelumnya yang lebih terfokus, kini mencakup secara menyeluruh negara-negara yang terlibat dalam perdagangan dengan Iran.

Keputusan ini diambil setelah gelombang protes di Iran yang awalnya berkaitan dengan isu ekonomi, namun perlahan berkembang menjadi tuntutan untuk menggulingkan rezim yang berkuasa. Dalam merespons protes ini, pemerintah Iran melakukan pemutusan internet total dan memberlakukan tindakan keras terhadap para demonstran.

Baca juga: Pihak Unisba dan Unpas Bantah Keterlibatan TNI-Polri di Kampus Saat Kericuhan

Reaksi China

Sebagai mitra dagang terbesar Iran, China segera mengeluarkan pernyataan resmi terkait ancaman tarif tersebut. Juru Bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menekankan bahwa Beijing akan melakukan 'semua langkah yang diperlukan' untuk melindungi kepentingan nasionalnya.

Liu juga memperingatkan bahwa perang dagang dan tarif tidak akan menghasilkan pemenang, menyoroti bahwa paksaan dan tekanan tidak menyelesaikan masalah. 'Proteksionisme merugikan kepentingan semua pihak,' ujarnya.

Korban Jiwa dan Analisis Situasi

Laporan yang diterbitkan oleh Human Rights Activists in Iran dan disebarluaskan oleh Associated Press menunjukkan bahwa korban jiwa akibat penumpasan demonstrasi di negara tersebut mencapai sedikitnya 2.000 orang. Angka ini mencakup baik warga sipil maupun anggota aparat pemerintah yang terlibat dalam kekerasan.

Situasi kompleks ini menunjukkan dinamika yang terjalin di Iran, di mana protes yang dimulai dari isu ekonomi berpotensi memperburuk hubungan internasional dan menambah ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara lainnya yang terkait dengan Iran.

Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU