Gelombang unjuk rasa antipemerintah di Iran telah menyebabkan lonjakan jumlah korban jiwa, dengan laporan terbaru mencatat 2.571 orang tewas. Angka ini disampaikan oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang mencatat mayoritas korban merupakan demonstran yang tewas akibat tindakan keras dari pihak berwenang.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens dari Royal Antwerp
Aksi protes yang dimulai pada 28 Desember 2025 di Teheran ini berakar dari berbagai frustrasi ekonomi, terutama terkait penurunan nilai mata uang Rial Iran. Protes ini berkembang menjadi kerusuhan yang melibatkan berbagai daerah di seluruh negeri, menandakan tingkat ketidakpuasan yang tinggi di kalangan warganya.
Dinamika Unjuk Rasa di Iran
Unjuk rasa yang dimulai di kawasan Grand Bazaar Teheran ini melibatkan pedagang dan pemilik toko yang mengungkapkan ketidakpuasan terhadap situasi ekonomi yang semakin sulit. Aksi protes ini kemudian menyebar ke berbagai kota, menunjukkan bahwa ketidakpuasan masyarakat telah menjalar ke lapisan yang lebih luas.
Fokus utama dari protes ini adalah terhadap pemerintah teokratis yang telah berkuasa sejak revolusi 1979. Dalam beberapa hari terakhir, gelombang protes ini meningkat menjadi aksi kekerasan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Laporan HRANA mencatat bahwa dari total korban, terdapat 2.403 demonstran, 147 individu yang terafiliasi dengan pemerintah, dan 12 anak di bawah 18 tahun. Selain itu, protes ini juga menarik perhatian masyarakat internasional mengenai situasi hak asasi manusia di Iran.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran BEM SI: ‘Indonesia (C)emas’ Digelar pada 2 September 2025
Pernyataan Resmi dan Respons Internasional
Sebelumnya, seorang pejabat Iran, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengeluarkan klaim bahwa jumlah korban tewas sekitar 2.000 orang. Pejabat tersebut menyalahkan 'teroris' sebagai penyebab utama kematian warga sipil dan personel keamanan.
Pernyataan tersebut menandai kali pertama otoritas Teheran memberikan estimasi resmi jumlah korban secara keseluruhan. Ini juga mengundang kritik dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, yang menyatakan dukungan kepada para demonstran.
Ketegangan ini semakin meningkat seiring dengan tuduhan Iran bahwa negara-negara asing berupaya memprovokasi kerusuhan dengan mendukung aksi demonstrasi rakyat. Hal ini menunjukkan kompleksitas situasi yang dihadapi oleh Iran terkait stabilitas domestik dan hubungan internasional.
Keterlibatan Pihak Ketiga dan Tuduhan Terhadap AS dan Israel
Iran secara tegas menuduh Amerika Serikat dan Israel berperan dalam memperkeruh situasi dengan memanfaatkan 'agen-agen teroris' untuk memicu kerusuhan. Teheran menganggap bahwa tingginya angka kematian merupakan hasil tindakan yang diarahkan oleh negara-negara tersebut.
Dalam perkembangan terkini, Presiden AS Donald Trump mengulangi dukungannya kepada rakyat Iran dan menyatakan bahwa 'bantuan akan segera datang'. Reaksi ini membuka dimensi baru dalam konflik yang terjadi, memperlihatkan perbedaan pendapat antara kekuatan internasional terkait situasi di Iran.
Tuduhan ini menciptakan ketegangan lebih lanjut dalam hubungan internasional, di mana Iran dan AS terus berhadapan dalam perspektif yang saling bertentangan mengenai hak asasi manusia dan intervensi asing.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: