Diskursus mengenai pengembalian mandate pemilihan kepala daerah di Indonesia kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) telah memunculkan banyak pendapat dan evaluasi mendalam.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan bahwa perubahan ini memerlukan revisi Undang-Undang Pilkada Nomor 10 Tahun 2016, yang mungkin akan mengubah arah demokrasi di Indonesia.
Evaluasi Sistem Pemilihan Langsung
Selama 15 tahun terakhir, sistem pemilihan kepala daerah secara langsung telah diterapkan, dan kini berada dalam evaluasi mendalam mengenai efektivitas serta kualitas pemimpin yang dihasilkan.
Gubernur Lemhannas, Ace Hasan Syadzily, dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa kajian yang dilakukan lembaganya menunjukkan pentingnya evaluasi berkala, namun detail kajian tersebut tidak dapat dibagikan karena bersifat rahasia.
Perubahan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana DPRD dapat menjaga nilai-nilai demokrasi, di mana Ace berpendapat bahwa pemilihan oleh DPRD bisa dilakukan tanpa mengorbankan prinsip demokrasi asal kualitas kepemimpinan tetap diutama.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama dari Indonesia di Major League Soccer
Ambang Hukum untuk Perubahan Sistem
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengemukakan bahwa jika pemilihan kepala daerah beralih ke DPRD, maka undang-undang yang ada harus diubah terlebih dahulu.
Menurut tatacara konstitusi, baik pemilihan langsung maupun melalui wakil memiliki dasar hukum yang kuat dalam UUD 1945, selama keduanya diatur secara jelas dalam perundang-undangan.
Pasal 18 UUD 1945 menegaskan perlunya pemilihan kepala daerah secara demokratis, sehingga penunjukan langsung oleh pemerintah menjadi tidak sah menurut hukum.
Respon Akademisi dan Masa Depan Demokrasi
Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) dari Fakultas Hukum Universitas Andalas menolak keras wacana pemilihan kembali oleh DPRD, menyatakan bahwa pemilihan langsung merupakan bentuk kedaulatan rakyat yang sangat mendasar.
Direktur PUSaKO, Charles Simabura, berpendapat bahwa mempertahankan pemilihan langsung menunjukkan loyalitas terhadap prinsip-prinsip demokrasi yang telah diperjuangkan sejak reformasi.
Perdebatan ini berada dalam konteks kritis, di mana keputusan akhir bakal menentukan arah demokrasi Indonesia, antara efisiensi sistem dan hak kedaulatan rakyat.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Terima Pimpinan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi Buruh
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: