Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana untuk segera membongkar sejumlah tiang monorel yang tidak terpakai di sepanjang Jalan HR Rasuna Said dan Senayan. Langkah ini diambil mengingat tingginya jumlah kecelakaan yang terjadi akibat keberadaan pilar-pilar tersebut.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN
Yustinus Prastowo, Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, menegaskan bahwa pembongkaran ini bukan hanya untuk meningkatkan keselamatan, tetapi juga bertujuan mempercantik pemandangan kota Jakarta.
Alasan Pembongkaran Tiang Monorel
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 100 miliar dalam APBD 2026 untuk pembongkaran tiang monorel. Anggaran tersebut juga akan dimanfaatkan untuk penataan kawasan serta perbaikan trotoar yang ada di sekitar tiang tersebut.
Yustinus Prastowo menjelaskan, "Menata kawasan Kuningan bukan berarti mengabaikan kawasan dan kebutuhan lain. Pada saat yang sama, Pemprov DKI Jakarta tetap fokus pada penyediaan infrastruktur dasar dan layanan esensial bagi warga DKI."
Berdasarkan data, insiden kecelakaan yang melibatkan tiang monorel telah meningkat. Keberadaan tiang ini ternyata berpotensi menimbulkan bahaya bagi pengguna jalan, yang memicu urgensi untuk segera diatasi.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Perdebatan Selebritas di DPR dan Tantangan Akuntabilitas
Sejarah Proyek Monorel Jakarta
Proyek pembangunan monorel Jakarta bermula pada tahun 2004 di bawah kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Gubernur Sutiyoso. Tujuan awalnya adalah menyediakan alternatif transportasi guna mengurangi kemacetan yang semakin parah di Jakarta.
Namun, proses pembangunan yang dikelola oleh PT Jakarta Monorail terpaksa terhenti pada tahun 2007 akibat berbagai kendala, termasuk sengketa aset dan masalah pendanaan.
Evaluasi di era kepemimpinan Fauzi Bowo pada tahun 2008 menegaskan penghentian resmi proyek tersebut. Hal ini dilakukan setelah tidak adanya kepastian dari PT Jakarta Monorail untuk memenuhi komitmen pendanaan yang diperlukan.
Dinamika Pembongkaran Tiang Monorel
Di bawah kepemimpinan Gubernur Joko Widodo yang terpilih pada tahun 2012, upaya untuk menghidupkan kembali proyek monorel mulai mencuat. Pada tahun 2014, ia bahkan menyatakan niat untuk melanjutkan kerjasama dengan PT Jakarta Monorail.
Meskipun peletakan batu pertama ulang dilakukan, kesepakatan baru tidak pernah ditandatangani secara resmi, menyebabkan proyek kembali menghadapi stagnasi. Polemik mengenai tiang monorel yang mangkrak terus berlanjut sepanjang pemerintahan.
Di masa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama, wacana pembongkaran tiang monorel mengemuka kembali. Namun, rencana tersebut terhambat karena perbedaan penilaian harga yang membuat pelaksanaan pembongkaran menjadi kompleks.
Baca juga: Polisi Lakukan Penyelidikan Kasus Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: