Gelombang unjuk rasa di Iran telah menewaskan lebih dari 500 orang sesuai laporan terkini dari kelompok hak asasi manusia. Pertikaian antara demonstran dan aparat keamanan berlangsung intensif di berbagai wilayah dalam dua minggu terakhir.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Terima Aspirasi Mahasiswa Terkait Demonstrasi dan Tunjangan Anggota
Menurut organisasi HRANA, dari total korban tewas tersebut, sebanyak 490 merupakan demonstran, sedangkan 48 adalah anggota keamanan. Pemerintah Iran juga melakukan pemadaman internet yang berdampak pada lebih dari 10.600 individu yang ditangkap.
Kronologi Unjuk Rasa di Iran
Unjuk rasa di Iran dimulai sejak 28 Desember 2025, dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang berdampak besar pada ekonomi masyarakat. Demonstrasi ini seiring waktu berkembang menjadi gerakan yang menantang kepemimpinan ulama di negara tersebut.
Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan meningkat signifikan, dengan laporan kekerasan dari kedua belah pihak. Situasi ini sangat mengkhawatirkan mengingat banyaknya korban jiwa yang berjatuhan di tengah aksi protes.
Pemerintah Iran bereaksi dengan tegas terhadap unjuk rasa tersebut, memasukkan pemadaman internet sebagai salah satu langkah untuk mengendalikan kerusuhan yang terjadi. Penangkapan ratusan demonstran menambah ketegangan yang sudah ada.
Baca juga: Google Menanggapi Isu Keamanan Phishing pada Layanan Gmail
Reaksi Internasional Terhadap Situasi di Iran
Situasi di Iran menarik perhatian dunia internasional, terutama dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dilaporkan sedang mengevaluasi opsi militer sebagai langkah respons terhadap kekerasan yang sedang berlangsung di Iran.
Dalam pernyataannya di dalam pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mempertegas, 'Kami sedang melihat ini dengan sangat serius,' menandakan bahwa terdapat opsi-opsi strategis yang tengah dipertimbangkan untuk intervensi lebih lanjut.
Sumber dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa berbagai opsi, termasuk kemungkinan serangan militer langsung serta penggunaan senjata siber, sedang dibahas di Washington.
Implikasi Ekonomi dan Politik dari Ketegangan
Kekacauan yang terjadi mengakibatkan lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent mengalami kenaikan signifikan, mencapai US$ 63,65 per barel, menunjukkan dampak nyata dari ketegangan di Iran sebagai salah satu produsen minyak utama.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai penyebab utama kerusuhan yang sedang terjadi. Ia mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi oleh keadaan yang sedang memburuk.
Pezeshkian menegaskan, 'Saya meminta kepada keluarga: Jangan biarkan anak-anak muda kalian bergabung dengan para perusuh dan teroris yang membakar masjid serta menyerang properti publik,' sebagai upaya untuk meredam ketegangan yang semakin meningkat.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: