Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengklaim adanya bukti yang menunjukkan keterlibatan badan intelijen Israel, Mossad, dalam kekacauan yang terjadi di negaranya. Klaim ini muncul setelah pernyataan dari mantan Direktur CIA, Mike Pompeo, yang menunjukkan bahwa agen Mossad beroperasi di dalam Iran.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Menandai Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Dalam pengumuman resmi, Araghchi menuduh bahwa aksi kekerasan selama unjuk rasa ditujukan oleh para teroris yang diduga mendapat dukungan dari Mossad. Ia juga mengkritik pemerintah Amerika Serikat yang membantah klaim tersebut, menyebutnya sebagai sebuah delusi.
Pernyataan Resmi dan Tudingan Keterlibatan Mossad
Abbas Araghchi menegaskan bahwa beberapa anggota Kepolisian Iran telah dieksekusi oleh kelompok teroris yang diduga didukung oleh Mossad. Melalui unggahannya, ia menyertakan tangkapan layar dari postingan Pompeo yang menegaskan keberadaan agen Mossad di jalanan Iran.
Menurut Araghchi, pemerintah AS menganggap Iran 'delusional' dalam menilai intervensi dari Israel dan AS. Namun, ia berargumen bahwa justru asumsi tersebut mencerminkan keadaan 'delusional' pihak pemerintah AS sendiri.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China
Contoh Kerusuhan dan Respons Pemerintah AS
Dalam pernyataannya, Menlu Iran menyoroti kekerasan yang terjadi dalam penanganan unjuk rasa di Amerika Serikat, dengan merujuk pada insiden penembakan seorang wanita oleh agen imigrasi di Minneapolis. Ia berkata, 'Pemerintahan Trump mendukung tindakan kekerasan polisi di dalam negeri, namun menyerukan negara lain untuk diam terhadap kekerasan di negara mereka.'
Araghchi juga menunjukkan bahwa Departemen Keamanan Dalam Negeri AS tidak ragu untuk mengancam warga negara yang berinteraksi dengan petugas federal, menekankan ketidakadilan dalam aparat penegak hukum di AS.
Tuduhan Terhadap AS dan Israel
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh AS dan Israel secara sistematis berusaha menimbulkan kekacauan dan ketidakstabilan di Iran. Ia berargumen bahwa kedua negara tersebut telah melatih kelompok tertentu baik di dalam negeri maupun secara internasional untuk mendukung tindakan terorisme di Iran.
Pezeshkian menambahkan bahwa infiltrasi teroris yang terlatih ke dalam Iran bertujuan untuk memicu lebih banyak kerusuhan, yang merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk merusak stabilitas negara.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: