Gambar dan video imajiner penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, muncul di media sosial dengan pesat, banyak di antaranya berasal dari kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini dipicu oleh pengumuman mantan Presiden AS, Donald Trump, mengenai serangan besar terhadap Venezuela pada awal Januari 2026.
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Gelombang Disinformasi di Media Sosial
Setelah pengumuman tersebut, gambar-gambar fisik yang menunjukkan Maduro ditahan oleh petugas penegak hukum AS mulai beredar luas. Beberapa di antaranya menyertakan video yang berisi konfrontasi antara masyarakat Venezuela dan pihak otoritas pemerintah, menyebalkan kebingungan di tengah publik.
Media seperti The Guardian melaporkan bahwa banyak informasi tidak terverifikasi beredar, dengan gambar asli bercampur aduk dengan yang palsu, sehingga menyulitkan masyarakat untuk membedakan kenyataan dari fiksi. 'Ketidakpastian informasi yang terverifikasi dalam serangan tersebut membuat publik semakin bingung,' ucap laporan itu.
Platform media sosial pun dibanjiri foto-foto buatan AI yang mencapai ratusan ribu tampilan. Meskipun ada alat yang mengklaim dapat mendeteksi foto palsu, keakuratan teknologi tersebut sering kali diragukan.
Peran Influencer dalam Penyebaran Konten Palsu
Influencer berperan dalam menyebarluaskan gambar palsu tersebut, salah satunya adalah Vince Lago, Wali Kota Coral Gables, yang membagikan gambar Maduro disertai agen DEA. Dalam keterangan post-nya, Lago menyebut Maduro sebagai 'pemimpin organisasi narco-teroris yang mengancam negara kita.'
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video Parodi
Post tersebut mendapatkan lebih dari 1.500 likes dan membanjiri feed pengguna lainnya. Fenomena ini menyoroti betapa cepatnya informasi yang tidak akurat bisa menyebar ketika disebarkan oleh akun yang berpengaruh.
Sofia Rubinson, editor senior NewsGuard, menekankan bahwa banyak gambar yang dihasilkan AI sulit dibedakan dari yang nyata. 'Banyak visual yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan kerap membanjiri media sosial dengan fakta yang tidak sesuai,' tutur Rubinson.
Konteks dan Ketidakakuratan dalam Video dan Gambar
Laporan dari NewsGuard mencatat bahwa sejumlah foto dan video yang beredar ternyata menipu masyarakat dengan menyebutkan operasi militer di Venezuela. Misalnya, sebuah video yang menampilkan helikopter pasukan khusus AS, diambil dari lokasi yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan waktu kejadian.
Analisis penyebaran informasi menunjukkan bagaimana gambar dan rekaman dari tahun-tahun sebelumnya diseleksi ulang untuk mendukung narasi terkini. Beberapa influencer dari sayap kanan juga menyebarkan video yang menampilkan perayaan penggulingan Maduro, yang sebenarnya direkam tahun lalu.
Sistem moderasi berbasis crowdsourcing juga mengindikasikan bahwa video tersebut dipergunakan dengan cara yang keliru. 'Sumber saat ini tidak menunjukkan adanya perayaan semacam itu di Caracas hari ini,' jelas chatbot AI bernama Grok.
Baca juga: Pemeriksaan Eks Menteri Agama oleh KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: