Rabu, 07 JANUARI 2026 • 18:12 WIB

Tindak Lanjut Mitigasi Bencana Geologi di Indonesia: 24 Gunung Api dalam Status Waspada

Author

Tindak Lanjut Mitigasi Bencana Geologi di Indonesia: 24 Gunung Api dalam Status Waspada

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa terdapat 24 gunung api di Indonesia yang berada dalam status Waspada. Pengumuman ini dilakukan setelah penutupan Posko Nasional Sektor ESDM pada 5 Januari 2026, menandakan berakhirnya fase siaga sejak pertengahan Desember 2025.

Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Tanggapan dan Komitmen Reformasi

Selain itu, Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur ditetapkan dalam status Awas, sementara Gunung Merapi dan Semeru berstatus Siaga. Langkah mitigasi ini dianggap penting dalam memastikan kelangsungan pasokan energi nasional.

Status Gunung Api dan Aktivitas Vulkanik

Inspektur Jenderal Kementerian ESDM, Yudhiawan, menyatakan bahwa kesiapsiagaan dan langkah mitigasi memiliki peran kunci dalam menjaga pasokan energi selama libur panjang. "Pelaksanaan upaya antisipasi bencana geologi sudah dimitigasi, baik itu gunung api, gerakan tanah, dan kemudian gempa bumi; semuanya termitigasi dengan baik dan berjalan lancar berkat kerja keras kita semua," ujarnya.

Data posko mencatat satu gunung api berstatus Awas (Level IV), yaitu Gunung Lewotobi Laki-laki, yang mengalami peningkatan status pada 1 Januari 2026. Sementara itu, Gunung Merapi dan Gunung Semeru dikategorikan sebagai Siaga (Level III), dan 24 gunung lainnya berstatus Waspada (Level II).

Peningkatan aktivitas vulkanik ini diharapkan tidak mengganggu operasional vital di sektor energi. Kolaborasi antar instansi memberikan jaminan bahwa fasilitas tetap beroperasi tanpa gangguan yang berarti.

Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama dari Indonesia di Major League Soccer

Pemetaan dan Tindakan Antisipatif

Erika Retnowati, Ketua Posko Nasional Sektor ESDM, menekankan pentingnya tindakan pemetaan daerah rawan untuk mencegah gangguan dalam distribusi energi. "Alhamdulillah seluruh aktivitas gempa bumi, gunung api, dan gerakan tanah tidak berdampak terhadap pasokan maupun kelancaran penyaluran energi baik BBM, Gas, maupun listrik," ungkapnya.

Selama periode 15 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, posko melaporkan 10 kejadian gempa dengan magnitudo di atas 5,0 serta 46 kejadian gempa berkekuatan lebih rendah. Peristiwa yang paling signifikan adalah gempa merusak di Agam, Sumatra Barat pada 28 Desember 2025.

Pengelolaan yang baik dalam situasi tersebut berhasil meminimalkan dampak negatif dari bencana, berkat koordinasi yang cepat dan respons segera yang diambil untuk menghindari tsunami serta memperkecil kerusakan infrastruktur energi.

Kolaborasi Lintas Sektoral dalam Mitigasi

Yudhiawan memberikan penghargaan terhadap kecepatan pengumpulan data serta respons dari tim geologi. Dia menekankan bahwa "Pelaksanaan upaya antisipasi bencana geologi sudah dimitigasi, baik itu gunung api, gerakan tanah, dan kemudian gempa bumi, termitigasi dengan baik dan semuanya berjalan berkat kerja keras kita semua."

Keberhasilan dalam mitigasi bencana tidak lepas dari kolaborasi antara sektor-sektor terkait. Sinergi antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, dan Polri memastikan informasi kebencanaan dapat disampaikan secara tepat waktu kepada operator energi.

Dengan langkah-langkah antisipatif yang tepat, operasional energi tetap terjamin tanpa gangguan. Kolaborasi lintas sektoral sangat penting dalam menghadapi tantangan bencana geologi.

Baca juga: Mengenal Finfluencer dan Peranannya dalam Pendidikan Keuangan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU