Senin, 05 JANUARI 2026 • 17:20 WIB

Perusahaan Kencan Online Fokus pada Pasar Asia, termasuk Indonesia

Author

Perusahaan Kencan Online Fokus pada Pasar Asia, termasuk Indonesia

Perusahaan-perusahaan kencan online kini beralih fokus menuju pasar Asia, setelah mengalami kendala pertumbuhan di Amerika Utara dan Eropa. Fenomena ini dipicu oleh kelelahan pengguna terhadap mekanisme pencarian pasangan secara daring, yang dikenal dengan istilah 'swipe-right fatigue'.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Menandai Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang

Pasar Asia, khususnya Indonesia, menunjukkan angka pertumbuhan pengguna yang pesat, terutama di kalangan perempuan. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya stigma terhadap kencan daring dan kebutuhan masyarakat untuk menjalin hubungan di luar lingkungan kerja.

Pergeseran Pasar Kencan Online

Platform kencan online seperti Tinder dan Bumble menghadapi tantangan dalam mempertahankan jumlah pengguna mereka di pasar Barat. Menurut data terbaru, pengguna aktif Tinder mengalami penurunan sebesar 10%, menjadi 51 juta pada paruh pertama tahun 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Bumble tidak luput dari dampak tersebut, dengan penurunan pengguna sekitar 5%, yang menghasilkan total sekitar 20,8 juta pengguna. Pergeseran fokus menuju pasar Asia dipandang sebagai strategi untuk mengejar potensi pertumbuhan di wilayah yang menunjukkan minat tinggi terhadap kencan daring.

Baca juga: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri dalam Membangun Hubungan yang Sehat

Indonesia dan Tren Kencan Online

Indonesia mencatat pertumbuhan pengguna aplikasi kencan online yang signifikan, menjadikannya salah satu negara terdepan di Asia. Menurut data yang diterbitkan, negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, mendominasi lima besar dalam pertumbuhan unduhan aplikasi kencan sepanjang tahun 2025.

Walaupun pertumbuhan jumlah pengguna menunjukkan angka yang menjanjikan, pendapatan dari aplikasi kencan di wilayah ini masih jauh dari memuaskan. Hanya Jepang yang mencatat pertumbuhan pendapatan yang lebih baik dibandingkan negara-negara Asia lainnya.

Perspektif dan Adaptasi dalam Kencan Online

Shn Juay, Chief Executive dari Coffee Meets Bagel, mengemukakan pandangannya mengenai pergeseran perilaku pengguna perempuan di Asia dalam mencari pasangan melalui aplikasi kencan. "Perempuan tak lagi bergantung pada keluarga dan teman untuk memperkenalkan mereka ke jodoh masa depan," ungkap Juay.

Pergeseran ini mendorong aplikasi kencan untuk menyesuaikan diri dengan norma dan budaya yang beragam di masing-masing negara. Juay menambahkan, "Orang-orang di Asia cenderung lebih berorientasi pada tujuan tertentu, yaitu mencari pasangan dalam jangka waktu lama."

Baca juga: Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Ditangkap: Tuduhan Provokasi dan Tindakan Anarkis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU