Senin, 05 JANUARI 2026 • 11:15 WIB

Risiko dan Tantangan dalam Penggalian Makam Kaisar Pertama China

Author

Risiko dan Tantangan dalam Penggalian Makam Kaisar Pertama China

Makam Kaisar Qin Shi Huang, pendiri Dinasti Qin dan kaisar pertama China, hingga kini belum diekskavasi akibat potensi risiko yang dapat merusak artefak berharga di dalamnya.

Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN

Sejak penemuan kompleks Pasukan Terakota pada tahun 1974, ilmuwan cenderung lebih fokus pada penggalian sisa-sisa tentara dari tanah liat ketimbang meneruskan penggalian makam sang kaisar.

Sejarah Makam Kaisar Qin Shi Huang

Qin Shi Huang, yang menjadi kaisar pertama China, memerintah hingga kematiannya pada tahun 210 SM. Ia dikenal sebagai perancang kompleks Pasukan Terakota yang terletak di dekat makamnya.

Kompleks ini berisi lebih dari 8.000 patung tentara, 130 kereta, dan 520 kuda yang diyakini akan menemani dirinya di alam baka. Saat ini, banyak artefak tersebut masih berada di dalam lubang dekat mausoleum dan belum digali.

Makamnya, sebagai warisan sejarah, menarik perhatian kalangan akademik. Namun, kekhawatiran akan kerusakan artefak berharga membuat penggalian makam menjadi sebuah tantangan yang rumit.

Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Pemblokiran Jalan

Kekhawatiran dan Potensi Risiko

Ilmuwan enggan melakukan penggalian makam karena potensi kerusakan pada peninggalan sejarah yang dianggap sangat berharga. Mereka mengingat kembali pengalaman penggalian kota Troy yang berujung pada kehancuran situs tersebut.

Temuan penelitian menunjukkan adanya kandungan merkuri yang 100 kali lebih tinggi dari batas normal di sekitar situs, sehingga ada dugaan bahwa ada sungai merkuri beracun yang dibuat oleh Qin di sekeliling makam.

Sima Qin, pakar sejarah, mengungkapkan bahwa makam tersebut diisi dengan artefak langka serta jebakan mematikan untuk melindungi harta di dalamnya. "Pengrajin diminta untuk membuat busur dan panah untuk menembak siapapun yang memasuki makam," tulisnya.

Tantangan Ekskavasi

Makam Qin Shi Huang diperkirakan terletak sekitar 35 meter di bawah tanah, membuat proses penggalian menjadi lebih kompleks. Diperlukan banyak sumber daya manusia dan teknik yang tepat untuk melaksanakan penggalian ini.

Saat ini, China belum memiliki pengalaman yang cukup dalam melakukan ekskavasi pada kedalaman seperti itu, sehingga penggalian menjadi tantangan tersendiri bagi ilmuwan.

Para ilmuwan berharap kemajuan teknologi di masa depan dapat memungkinkan penggalian dilakukan dengan aman, guna menjaga keutuhan artefak yang ada di dalam makam.

Baca juga: Tragedi Penembakan Staf KBRI di Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU