Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan target penghentian ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar pada April 2026. Sasaran ini didorong oleh pelaksanaan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang didanai sekitar Rp 120 triliun.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Terima Aspirasi Mahasiswa Terkait Demonstrasi dan Tunjangan Anggota
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi ESDM, Laode Sulaeman, menyebutkan bahwa kebijakan penghentian impor ini mencakup juga badan usaha swasta yang selama ini mengandalkan pasokan Solar dari luar negeri. Langkah ini merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kemandirian energi nasional.
Proyek RDMP Balikpapan dan Rencana Penghentian Impor Solar
Proyek RDMP Balikpapan dijadwalkan diresmikan pada Januari 2026, dengan harapan dapat menghentikan impor BBM Solar tiga bulan setelah operasi dimulai. Laode menekankan, 'RDMP-nya sudah beroperasi, tapi secara operasionalisasinya nanti RDMP atau Pertamina membutuhkan persiapan tiga bulan.'
Untuk mendukung penghentian impor, pemerintah juga mendorong badan usaha swasta untuk berkoordinasi dengan Pertamina. Laode menyatakan, 'Kita sudah bikin surat ke swasta. Jadi mereka kita wajibkan untuk segera berkoordinasi dengan Pertamina untuk mendapatkan alokasi dalam negeri.'
Baca juga: Desta Sebarkan Tuntutan 17+8 Setelah Hujatan Netizen Terkait Pilihan Politik
Kapasitas Produksi dan Kebijakan Energi Nasional
Data terbaru menunjukkan bahwa kapasitas produksi dalam negeri sudah cukup untuk menghentikan impor Solar. Laode menambahkan, 'Ini kan karena kita sudah produksi dalam negeri. Kalau yang lain masih ada tuh impornya, bensin, masih.'
Penghentian impor Solar akan beriringan dengan kebijakan pencampuran biodiesel sebesar 50% (B50) pada Semester II 2026, yang diharapkan dapat meningkatkan surplus produksi BBM Solar. Pemerintah meyakini bahwa dengan kondisi ini, industri energi dalam negeri akan berkapasitas memenuhi kebutuhan nasional.
Dampak Ekonomi dari Proyek RDMP Balikpapan
Proyek RDMP Balikpapan diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap kemandirian energi nasional. Dengan potensi penghematan impor mencapai Rp 68 triliun per tahun, proyek ini diprediksi akan berkontribusi pada PDB nasional sebesar Rp 514 triliun.
Investasi besar, yang mencapai US$ 7,4 miliar atau sekitar Rp 120 triliun, berfokus pada pembangunan infrastruktur energi dan penciptaan lapangan pekerjaan. Proyek ini telah menyerap lebih dari 24.000 tenaga kerja selama masa puncak konstruksi.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: