Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengungkapkan bahwa dua pelaku penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, dipengaruhi oleh ideologi Islamic State (ISIS).
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Serangan yang menargetkan perayaan Hanukkah ini mengakibatkan 15 orang tewas dan menunjukkan tanda-tanda tindakan terorisme yang menghujat komunitas Yahudi.
Profil Pelaku Penembakan
Sajid Akram, berusia 50 tahun, dan putranya, Naveed Akram, berusia 24 tahun, terlibat dalam aksi penembakan brutal yang menyebabkan banyak korban jiwa.
Keduanya diyakini telah terpapar radikalisasi dan menggunakan senjata laras panjang untuk menembaki kerumunan yang merayakan Hanukkah di lokasi tersebut.
Penembakan ini dinilai sebagai tindakan terorisme yang berakar dari kebencian terhadap komunitas Yahudi.
Pernyataan Perdana Menteri
Dalam pernyataannya, Albanese menekankan bahwa ideologi yang mendasari tindakan ini telah ada selama lebih dari satu dekade.
Baca juga: Google Menanggapi Isu Keamanan Phishing pada Layanan Gmail
"Tampaknya ini dimotivasi oleh ideologi Islamic State," ujarnya, menegaskan dampak serius dari ideologi ekstremis.
Albanese juga menambahkan, "Ideologi kebencian ini, dalam kasus ini, melahirkan kesiapan untuk melakukan pembunuhan massal."
Dia mengungkapkan bahwa Naveed Akram telah menjadi perhatian badan intelijen Australia pada tahun 2019, namun saat itu dinyatakan tidak menjadi ancaman langsung.
Investigasi dan Tindakan Keamanan
Pasca penembakan, Sajid Akram dilaporkan ditembak mati saat berusaha menyerang, sementara Naveed Akram ditangkap dan dalam kondisi koma.
Kepolisian telah mengamankan lokasi penembakan dan melaksanakan investigasi untuk memahami tujuan dan jaringan yang mendasari tindakan ini.
Otoritas menyatakan bahwa mereka masih mencari informasi lebih dalam mengenai keterkaitan pelaku dengan individu atau kelompok lain yang mungkin terlibat dalam rencana ini.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Pertimbangan Penting untuk Pelari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: