Bibit Siklon Tropis 93S yang terdeteksi di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara menunjukkan potensi untuk berkembang menjadi badai siklon tropis dalam waktu dekat.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia untuk Memperkuat Timnas
Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan dampak yang ditimbulkan, terutama di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Deteksi dan Potensi Perkembangan Siklon
Bibit Siklon Tropis 93S terdeteksi aktif dan memiliki potensi untuk berubah menjadi badai yang dapat mempengaruhi berbagai wilayah di Indonesia.
Menurut Erma Yulihastin, pakar klimatologi dari BRIN, badai ini berpotensi menjadi 'next Senyar' yang dapat menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Erma menambahkan bahwa hasil analisis dari sistem prediksi KAMAJAYA-BRIN menunjukkan adanya potensi perkembangan yang memadai pada bibit siklon ini.
Infografis yang disertakan dalam analisis memperlihatkan kemungkinan pertumbuhan bibit badai ini menjadi siklon tropis yang dapat membawa angin kencang dan hujan ekstrem.
Risiko dan Implikasi Cuaca
Puncak risiko dari bibit badai ini diperkirakan terjadi antara 11 hingga 20 Desember 2025, dengan potensi dampaknya berlanjut hingga awal Januari 2026.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi Kerja dari Rumah untuk ASN
Erma juga menjelaskan bahwa meskipun ukuran 93S relatif kecil dan berpotensi lebih rendah dibandingkan Bibit Siklon Tropis 91S, ia tetap dapat mempengaruhi cuaca lokal di Nusa Tenggara Timur.
Terdapat pola konvergensi kuat yang dapat mengarah ke pembentukan pusaran di wilayah perairan timur, termasuk Laut Flores, yang berpotensi mengarah pada pembentukan badai.
Oleh karena itu, pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan untuk mulai melakukan upaya mitigasi guna mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi.
Analisis dan Prediksi Badan Meteorologi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memantau perkembangan Bibit Siklon Tropis 93S, yang saat ini terdeteksi aktif di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB).
BMKG memperkirakan bahwa meskipun sistem ini bergerak menjauhi wilayah Indonesia, ada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa daerah, termasuk Bali dan NTT.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa gelombang tinggi antara 1,25 meter hingga 2,5 meter juga diperkirakan akan terjadi di laut selatan.
Analisis BMKG menunjukkan bahwa kecepatan angin maksimum di sekitar 93S mencapai 15 knot, namun proses penguatan sistem ini diprakirakan akan berlangsung lambat dalam 24 jam ke depan.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Pertimbangan Penting untuk Pelari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: