Seorang pria berusia 60 tahun di Berlin, Jerman, dinyatakan sebagai orang ke-7 di dunia yang sembuh dari HIV setelah menjalani transplantasi sel punca.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru: Dugaan Penghasutan Massal yang Memicu Kontroversi
Penemuan ini diumumkan bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia dan dipublikasikan di jurnal Nature.
Detail Kesembuhan Pasien B2
Pasien yang dikenal sebagai B2 didiagnosis HIV pada tahun 2009 dan mulai menjalani pengobatan leukemia pada tahun 2015.
Setelah menjalani transplantasi sel punca, ia menghentikan terapi antiretroviral dan enam tahun kemudian tidak terdeteksi adanya virus HIV dalam tubuhnya.
Prosedur transplantasi sel punca ini biasanya ditujukan untuk mengatasi kanker, bukan HIV, namun hasil ini membuktikan bahwa transplantasi dapat memiliki efek lebih jauh untuk mengatasi virus.
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Profil Pendonor dan Mutasi Gen
Keunikan kasus ini terletak pada profil pendonor, yang hanya memiliki satu salinan mutasi gen CCR5 Δ32, berbeda dari enam pasien sebelumnya yang memiliki dua salinan.
Meskipun satu salinan dianggap tidak memadai untuk memberikan perlindungan penuh, temuan ini memberikan harapan bahwa lebih banyak pasien mungkin bisa diselamatkan.
Secara global, jumlah orang dengan satu salinan mutasi tersebut jauh lebih banyak dibandingkan yang memiliki dua salinan, menandakan bahwa pendekatan serupa mungkin dapat diterapkan pada lebih banyak pasien di masa depan.
Implicasi dan Tantangan di Masa Depan
Sebagaimana diinformasikan, transplantasi sel punca bukanlah solusi yang dapat diterapkan untuk sebagian besar pasien HIV, mengingat prosedur ini memiliki risiko tinggi dan biaya yang sangat mahal.
Transplantasi sel punca biasanya dilakukan pada pasien yang membutuhkan pengobatan kanker, sementara terapi antiretroviral tetap menjadi pilihan pengobatan yang paling aman dan efektif bagi orang dengan HIV-AIDS.
Meskipun penemuan ini menunjukkan langkah maju dalam riset HIV, jalan menuju pengobatan yang dapat diakses secara luas masih panjang.
Baca juga: Google Menanggapi Isu Keamanan Phishing pada Layanan Gmail
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: