Kamis, 27 NOVEMBER 2025 • 11:57 WIB

Ketegangan Internal di Nahdlatul Ulama: Pemanggilan Gus Yahya di Pesantren Lirboyo

Author

Ketegangan Internal di Nahdlatul Ulama: Pemanggilan Gus Yahya di Pesantren Lirboyo

Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, dijadwalkan menghadiri Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur pada hari ini, Kamis (27/11). Pemanggilan ini terjadi di tengah ketegangan internal yang melanda organisasi Nahdlatul Ulama.

Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens dari Royal Antwerp

Gus Yahya mengungkapkan bahwa tujuan dari pemanggilan tersebut adalah untuk membahas masalah islah internal, sementara komunikasi dengan Rais Aam PBNU, Miftachul Akhyar, masih terhambat karena belum adanya balasan atas permintaan audiensinya.

Ketegangan Internal di PBNU

Konflik dalam tubuh Nahdlatul Ulama semakin memanas, terutama setelah rapat harian Syuriyah pada 20 November 2025. Rapat tersebut menghasilkan surat edaran yang meminta Gus Yahya untuk mundur sebagai Ketua Umum PBNU dalam waktu tiga hari setelah keputusan tersebut diterima.

Yahya mengungkapkan keprihatinannya terkait keputusan yang diambil tanpa memberi kesempatan untuk memberikan klarifikasi. Ia menyatakan, "Saya dilarang memberikan klarifikasi. Itu yang paling saya sesalkan," menunjukkan ketidakpuasan atas tuduhan yang dialamatkan padanya tanpa adanya komunikasi.

Pernyataan dari rapat itu menandai adanya ketidakpuasan di kalangan pengurus NU, menciptakan konflik yang berpotensi memecah belah organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool di Bursa Transfer Musim Panas 2025

Respons Gus Yahya terhadap Surat Edaran

Meskipun surat edaran menyatakan bahwa Yahya tidak lagi berstatus sebagai Ketua Umum PBNU, ia menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak sah. Gus Yahya menekankan, "Saya masih tetap dalam jabatan saya sebagai Ketua Umum berdasarkan konstitusi organisasi dan juga berdasarkan pengakuan dari seluruh jajaran pengurus NU di semua tingkatan di seluruh Indonesia."

Surat tersebut ditandatangani oleh Wakil Rais Aam PBNU, Afifuddin Muhajir, dan Katib Ahmad Tajul Mafakhir. Namun, Gus Yahya merasa surat itu diambil tanpa keabsahan yang jelas, yang semakin menimbulkan tanda tanya mengenai stabilitas kepemimpinan dalam organisasi ini.

Ia juga berharap untuk menyelesaikan ketegangan ini melalui dialog dan mediasi, sebagai langkah menuju rekonsiliasi di dalam organisasi.

Langkah Selanjutnya dan Upaya Mediasi

Untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul, Gus Yahya menunjukkan komitmen tinggi. Ia telah berupaya menghubungi Miftachul Akhyar untuk menjadwalkan pertemuan guna membahas solusi terhadap konflik yang terjadi, meski belum mendapatkan respon.

Gus Yahya mengungkapkan harapannya dengan mengatakan, "Mungkin pada satu titik saya akan kirim pesan lagi untuk minta menghadap ya," yang menunjukkan ketidakpuasannya dengan situasi saat ini.

Selain menghadapi konflik internal, Gus Yahya juga berharap untuk mengembalikan stabilitas dalam organisasi Nahdlatul Ulama, yang menjadi salah satu pilar penting dalam masyarakat Indonesia.

Baca juga: Mengenal Finfluencer dan Peranannya dalam Pendidikan Keuangan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU