China baru-baru ini berhasil melaksanakan uji coba pengiriman 'astronaut tikus' ke stasiun luar angkasa pada 31 Oktober 2025. Proyek ini bertujuan untuk mendalami pengaruh kondisi luar angkasa terhadap perilaku dan fisiologi tikus.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China
Tikus yang terlibat dalam eksperimen ini tinggal di stasiun luar angkasa selama hampir dua minggu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan berharga mengenai kesehatan manusia dalam konteks eksplorasi luar angkasa jangka panjang.
Tujuan dan Metode Penelitian
Tikus dipilih untuk uji coba ini karena ukurannya yang kecil, siklus reproduksi yang pendek, dan kemudahan dalam modifikasi genetik. Para ilmuwan menganggap hewan ini sebagai objek penelitian ideal untuk mengkaji fisik dan perkembangan organisme di luar angkasa.
Selama periode berada di luar angkasa, tikus-tikus tersebut dipantau secara konstan melalui video multidimensi. Data yang dikumpulkan dari pengamatan tersebut akan dianalisis untuk memahami dampak lingkungan luar angkasa terhadap perilaku hewan yang diteliti.
Zhang Lu, pakar dari Technology and Engineering Center for Space Utilization, Chinese Academy of Sciences (CAS), memberikan penjelasan lebih dalam, "Percobaan ini memberi kita dasar yang baik untuk penelitian mamalia berskala besar lebih lanjut di orbit."
Baca juga: Korea Selatan Bersiap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Analisis Hasil dan Relevansi
Setelah misi, tim ilmuwan melakukan analisis menyeluruh terhadap perilaku, fisiologi, dan metriks biokimia tikus. Investigasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi respons akut dan perubahan adaptif hewan terhadap kondisi luar angkasa.
Menurut Huang Kun, seorang pakar dari CSU, temuan yang diperoleh dalam eksperimen ini sangat penting, "Temuan ini akan sangat penting untuk menilai kelayakan kelangsungan hidup dan reproduksi manusia jangka panjang di luar angkasa."
Dengan hasil yang diharapkan dari penelitian ini, diharapkan agar penelitian dapat memberikan wawasan yang bermanfaat untuk kesehatan manusia di Bumi serta kemajuan dalam ilmu hayati luar angkasa.
Kegiatan Astronaut dan Misi Lainnya
Selain keberhasilan pengiriman tikus, misi ini juga melibatkan astronaut Tiongkok yang telah melaksanakan empat aktivitas extravehicular dan sejumlah tugas transfer muatan. Mereka berhasil memasang perangkat pelindung dari puing-puing luar angkasa dan mempersiapkan peralatan tambahan eksternal.
Kerjasama antara kru astronaut dan personel ilmiah serta teknis berbasis darat telah menghasilkan pencapaian yang signifikan dalam sains material dan kedokteran antariksa. Salah satu contohnya adalah suksesnya pembangunan 'kebun luar angkasa', di mana wortel ditanam dan selada berhasil dipanen dalam modul Laboratorium Wentian.
Misi Shenzhou-20 yang berlangsung selama 204 hari ini tercatat sebagai misi terlama bagi stasiun luar angkasa China. Tiga astronaut yang terlibat dalam misi ini, yaitu Chen Dong, Chen Zhongrui, dan Wang Jie, berhasil mendarat dengan selamat di Gurun Gobi, China Utara.
Baca juga: Google Menanggapi Isu Keamanan Phishing pada Layanan Gmail
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: