Investigasi awal terkait kecelakaan pesawat kargo Emirates yang tergelincir ke laut di Bandara Internasional Hong Kong mengungkapkan penyebab utama hilangnya kendali terhadap pesawat tersebut.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Mesin pesawat yang mengalami akselerasi tidak normal pasca pendaratan diduga menjadi faktor krusial dalam insiden tragis ini.
Detail Kecelakaan Pesawat Kargo Emirates
Pesawat penerbangan Emirates EK9788 tiba dari Dubai dan mengalami kecelakaan pada 20 Oktober lalu, ketika pesawat keluar dari landasan utara sesaat setelah pendaratan.
Kecelakaan ini mengakibatkan pesawat menabrak mobil patroli keamanan sebelum akhirnya tercebur ke dalam perairan.
Temuan Awal Pihak Investigasi
Laporan awal yang diterbitkan oleh Air Accident Investigation Authority (AAIA) Hong Kong menunjukkan bahwa mesin Nomor Empat pesawat mengalami lonjakan tenaga dorong yang signifikan hingga 90% setelah menyentuh landasan.
Dalam waktu 12 detik setelah pendaratan, tenaga dorong meningkat menjadi 107%, yang dianggap abnormal oleh para ahli penerbangan.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Darryl Chan Chun-hoi dari Hong Kong Institute of Engineers menambahkan bahwa umumnya, kekuatan mesin tidak ditingkatkan saat mendarat.
Dampak Kecelakaan dan Proses Investigasi
Akibat dorongan mesin di sisi kanan, pesawat kehilangan kendali dan membelok ke arah kiri, yang menyebabkan kecelakaan dengan mengorbankan dua petugas bandara.
Pesawat tersebut dioperasikan oleh ACT Airlines, sebuah maskapai kargo yang disewa dari Turki.
Steven Dominique Cheung dari Hong Kong Professional Airline Pilots Association menyatakan bahwa keadaan satu mesin aktif dengan tiga mesin nonaktif sangat mengganggu kemampuan pesawat untuk mempertahankan arah.
Kondisi Mesin dan Rencana Laporan Lengkap
Laporan awal juga menyoroti bahwa Thrust Reverser pada mesin Nomor Empat tidak berfungsi sebelum pesawat mendarat.
Sistem autobrake di pesawat aktif setelah menyentuh landasan, memaksa awak pesawat untuk melakukan pengereman secara manual.
Yayasan pemerintahan Hong Kong memperkirakan bahwa laporan lengkap dari penyelidikan akan rampung dalam waktu satu tahun, sementara penyebab pasti kecelakaan masih dalam tahap studi.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Menuai Kritik
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: