Eks Kepala Densus 88 Antiteror, Komjen Marthinus Hukom, mengungkapkan bahwa terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta pernah melaporkan tindakan bullying kepada pihak sekolah yang sayangnya diabaikan.
Baca juga: Novak Djokovic Melangkah ke Semifinal US Open 2025 Setelah Mengalahkan Taylor Fritz
Pernyataan ini disampaikan dalam konteks penyelidikan insiden yang melukai puluhan siswa dan guru, menyoroti pentingnya respon terhadap isu bullying di lingkungan sekolah.
Pernyataan Eks Kepala Densus Mengenai Bullying di Sekolah
Marthinus Hukom menjelaskan bahwa informasi mengenai laporan bullying tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan penyidik dan keterangan siswa di sekolah. Ia mencatat, 'Itu kan dari hasil investigasi anak-anak penyidik di lapangan ya. Bahwa dia bersama temannya itu pernah lapor ke sekolah bahwa dia di-bully, tapi tidak ditanggapi.'
Dokumen yang diperoleh juga menunjukkan catatan pribadi terduga pelaku, yang berstatus anak berkonflik dengan hukum. Dalam catatan tersebut, terduga pelaku menyampaikan rasa putus asa dan ketidakberdayaan terkait laporan bullying yang tidak ditanggapi oleh pihak sekolah.
Kondisi ini menegaskan pentingnya keterbukaan sekolah dalam menangani isu bullying, di mana Marthinus menambahkan, 'Bahkan dia kan sampai bilang bahwa, ‘Untuk apa percaya sama Tuhan, kita lapor kepada sekolah aja juga tidak ada keadilan,’ begitu.'
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China
Tanggapan Kepala Sekolah SMAN 72 Jakarta
Kepala SMAN 72 Jakarta, Tetty Helena Tampubolon, menyangkal adanya laporan mengenai bullying dari siswa maupun guru. Ia menjelaskan, 'Yang saya panggil memang satu, lalu saya minta tolong ke tiga guru BK lainnya, ‘siapa yang sudah dihubungi?’ Ternyata jawabannya, ‘Bu, kami enggak ada (laporan soal bully),’'
Tetty juga melakukan pendekatan kepada siswa untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut. Menurutnya, 'Ya, sepengakuan anak-anak itu, mereka tidak tahu sebenarnya anak ini (pelaku) di-bully atau tidak.'
Ia memastikan bahwa selama proses tersebut, tidak ada bukti bahwa terduga pelaku mengalami perundungan, dan pendekatan yang dilakukan bertujuan agar siswa merasa nyaman untuk berbagi informasi.
Kronologi dan Dampak Ledakan
Insiden ledakan terjadi di masjid SMAN 72 Jakarta pada Jumat sekitar pukul 12.15 WIB saat siswa dan guru melaksanakan salat Jumat. Ledakan pertama menggemparkan saat khotbah berlangsung, diikuti dengan ledakan kedua dari arah berbeda.
Kejadian tersebut mengakibatkan 96 orang mengalami luka-luka. Informasi awal menunjukkan bahwa terduga pelaku adalah salah satu siswa dari sekolah tersebut yang diduga mengalami perundungan.
Polisi menemukan benda yang menyerupai airsoft gun dan revolver di lokasi kejadian, yang setelah diperiksa dipastikan adalah senjata mainan. Saat ini, motif dan penyebab pasti dari ledakan tersebut masih dalam tahap penyelidikan oleh kepolisian.
Baca juga: Mengenal Finfluencer dan Peranannya dalam Pendidikan Keuangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: