Meskipun perkembangan fasilitas kesehatan di Indonesia terus berlangsung, banyak pasien jantung memilih pengobatan di luar negeri, mencerminkan tantangan dalam pelayanan kesehatan domestik.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer
Data menunjukkan bahwa 47,2 persen pasien asing di Singapura berasal dari Indonesia, menandakan tingginya minat masyarakat terhadap layanan kesehatan luar negeri.
Masalah Pelayanan Kesehatan dalam Negeri
Dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular, dr. Sugisman, menyebutkan bahwa pelayanan merupakan kunci utama untuk ditingkatkan di rumah sakit dan tenaga medis dalam negeri.
Ia menjelaskan, "Sebenarnya banyak faktor, tapi yang paling dominan adalah masalah servis, bukan kualitas dokter." Pengalaman pasien sering kali terhambat oleh birokrasi panjang dan sulitnya akses untuk bertemu dokter.
Kualitas tenaga medis Indonesia tidak kalah dengan dokter di luar negeri; namun, efisiensi dan aksesibilitas pelayanan tetap menjadi isu penting. "Yang sering dikeluhkan pasien bukan soal kemampuan medis, tapi soal panjangnya birokrasi dan sulitnya akses untuk bertemu dokter," tambahnya.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Dampaknya di Kampus
Tingginya Prevalensi Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan peningkatan kasus setiap tahunnya. Dr. Sugisman menekankan bahwa perubahan gaya hidup dan pola makan berkontribusi pada kondisi kesehatan yang buruk.
"Kita melihat bahwa kasus terbanyak yang kami tangani adalah penyakit jantung koroner, dan prevalensinya terus meningkat setiap tahun," ungkapnya.
Gaya hidup yang tidak sehat, seperti kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, berperan dalam menambah jumlah penderita penyakit jantung. Maka, kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat menjadi sangat relevan.
Komitmen Pemerintah untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan
Pemerintah menyadari dampak signifikan dari pengobatan luar negeri terhadap perekonomian negara, dengan estimasi kehilangan hampir Rp200 triliun devisa per tahun. Data dari Singapore Tourism Board menunjukkan tingginya angka pasien Indonesia yang berobat ke Singapura.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan daya saing layanan kesehatan domestik. Fokus utama diarahkan pada peningkatan standar rumah sakit, modernisasi teknologi medis, serta perluasan akses dan keterjangkauan layanan kesehatan.
"Kami berupaya agar masyarakat tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri," ujar Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menekankan pentingnya reformasi di sektor kesehatan.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Pertimbangan Penting untuk Pelari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: