Topan Kalmaegi telah menimbulkan tragedi besar di Filipina, di mana sebanyak 140 orang dilaporkan tewas dan 127 orang hilang. Fenomena cuaca ini juga menyebabkan banjir dahsyat yang melanda wilayah Cebu, yang diperkirakan akan bergerak menuju Vietnam.
Baca juga: Pimpinan DPR RI Terima Aspirasi Mahasiswa Terkait Demonstrasi dan Tunjangan Anggota
Kerusakan akibat banjir di Kota Cebu sangat parah, dengan kendaraan dan bangunan tersapu arus air. Penghitungan kematian resmi dari Kantor Pertahanan Sipil Nasional Filipina mencatat 114 orang, belum termasuk tambahan 28 korban yang terdaftar oleh otoritas provinsi.
Dampak Banjir di Cebu
Kota-kota di Provinsi Cebu mengalami kerusakan parah akibat banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banjir ini menyebabkan mobil, gubuk, dan kontainer pengiriman besar tersapu arus air.
Sejumlah wilayah terisolasi, dan akses menuju beberapa daerah terputus akibat genangan air yang tinggi. Penduduk lokal berjuang untuk bertahan dan mencari perlindungan di tempat yang lebih tinggi.
Data statistik yang diperoleh menunjukkan bahwa lebih dari seribu rumah telah hancur atau mengalami kerusakan berat, memaksa banyak orang mengungsi. Hal ini menunjukkan perlunya upaya rehabilitasi yang berarti di masa depan.
Baca juga: Kasus Tragis Pengemudi Ojek Online Terlibat Oknum Anggota Brimob Menuju Jalur Pidana
Proses Penyelamatan dan Kesulitan yang Dihadapi
Di Liloan, dekat Kota Cebu, setidaknya 35 jenazah telah ditemukan, tragis menambah jumlah korban. Banjir yang ganas mengakibatkan mobil-mobil terhimpit dan atap-atap bangunan hancur saat penduduk berusaha menggali lumpur.
Seorang penyintas, Chyros Roa, menceritakan pengalaman traumatis tersebut. "Arusnya sangat kuat. Kami mencoba memanggil bantuan tetapi tidak ada yang datang," ujarnya, menggambarkan ketidakberdayaan saat air menghantam rumah mereka.
Banyak penduduk yang meminta bantuan dari berbagai lembaga, tetapi keterbatasan logistik dan infrastruktur yang rusak memperlambat proses penyelamatan, meninggalkan banyak orang dalam kondisi rentan.
Tanggapan Pemerintah dan Peringatan Ilmuwan
Presiden Ferdinand Marcos telah mendeklarasikan 'bencana nasional' untuk memfasilitasi distribusi bantuan bagi yang terdampak. Langkah ini dianggap penting dalam menangani situasi darurat yang sedang berlangsung.
Pemerintah juga menetapkan batas harga tertinggi untuk barang-barang pokok, sebagai upaya melindungi masyarakat dari lonjakan harga akibat kelangkaan.
Para ilmuwan memberikan peringatan serius terkait perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan intensitas badai. Mereka mengungkapkan, "Oceans that are warmer allow typhoons to develop rapidly, while a hotter atmosphere holds more moisture, dramatically increasing rainfall," menyoroti kebutuhan mendesak untuk mengatasi isu ini di tingkat global.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran BEM SI: ‘Indonesia (C)emas’ Digelar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: