Grup narkoba berbahaya Red Command di Brasil menjadi sorotan setelah operasi besar-besaran yang diluncurkan oleh Presiden Lula da Silva, mengakibatkan tewasnya 132 orang.
Baca juga: Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Ditangkap: Tuduhan Provokasi dan Tindakan Anarkis
Operasi ini menargetkan anggota utama Red Command, namun mendapat kritik keras dari pengamat hak asasi manusia dan PBB terkait tewasnya banyak individu tanpa proses hukum yang jelas.
Sejarah dan Asal Usul Red Command
Red Command, atau Comando Vermelho (CV), adalah kelompok kriminal tertua di Brasil yang lahir dari kolaborasi antara narapidana dan milisi sayap kiri di dalam penjara.
Kelompok ini terbentuk selama periode rezim diktator Brasil dari 1964 hingga 1985, di mana kondisi penjara yang keras mendorong para narapidana untuk bersatu demi bertahan hidup.
Awalnya dikenal sebagai Falange Vermelha, kelompok ini kemudian mendapatkan nama 'Komando Merah' dari media ketika mereka terlibat dalam kejahatan terorganisir.
Pada 1979, Red Command mulai mengekspansi pengaruhnya ke luar penjara, melakukan berbagai kejahatan, termasuk perampokan bank.
Ekspansi dan Pengaruh Red Command
Seiring waktu, Red Command mulai terlibat dalam perdagangan narkoba, bekerja sama dengan kartel narkoba di Kolombia dan mengembangkan jaringan distribusi yang kuat.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer
Peningkatan kegiatan ilegal ini, ditambah dengan melemahnya pengaruh mafia judi ilegal, memungkinkan Red Command untuk memperluas kekuasaannya di Rio de Janeiro.
Pada tahun 2005, diperkirakan mereka menguasai lebih dari separuh wilayah paling berbahaya di kota tersebut, termasuk penjara-penjara di seluruh Brasil.
Kolaborasi dengan kelompok lokal dan aliansi dengan narapidana di berbagai wilayah semakin memperkuat posisi mereka di pasar narkoba.
Operasi Terhadap Red Command
Operasi yang dilaksanakan oleh pemerintah Brasil baru-baru ini ini menyasar Red Command dalam upaya menanggulangi kejahatan terorganisir di negara tersebut.
Selama operasi, banyak anggota Red Command ditangkap dan tewas dalam situasi yang memicu kecaman dari organisasi hak asasi manusia.
Kritik juga datang dari PBB yang menyoroti pelanggaran hak asasi manusia akibat dari tindakan penegakan hukum yang brutal ini.
Sebagian besar anggota yang terkena operasi ini dianggap sebagai korban dari sistem yang tidak memberikan keadilan yang layak.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Dampaknya di Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: