Ruang digital saat ini diwarnai oleh dugaan kebocoran data yang melibatkan 183 juta akun dan password Gmail, mengundang perhatian banyak pihak terkait keamanan cyberspace.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta
Pakar dari Tenable telah mengidentifikasi bahwa kebocoran ini tidak bersumber dari Google, melainkan berasal dari data lama yang dikumpulkan dari berbagai sumber di internet.
Asal Usul Kebocoran Data
Kebocoran data yang melibatkan sejumlah besar akun Gmail ini terdeteksi oleh situs Have I Been Pwned. Meskipun insiden ini terjadi pada bulan April, pengumuman resminya baru muncul belakangan.
Menurut Troy Hunt, pengelola situs terkait, data yang bocor merupakan hasil pengumpulan dari berbagai serangan siber yang terjadi sebelumnya di internet. Hal ini menunjukkan pentingnya pengguna untuk memperhatikan keamanan akun mereka.
Hunt menerangkan, "data tersebut berasal dari serangan siber yang jauh lebih luas yang dikumpulkan dari berbagai sumber di internet." Hal ini menandakan bahwa kebocoran ini lebih kompleks dari yang terlihat.
Baca juga: Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran BEM SI: ‘Indonesia (C)emas’ Digelar pada 2 September 2025
Klarifikasi dari Tenable
Satnam Narang, seorang ahli dari Tenable, menegaskan bahwa laporan mengenai 183 juta akun Gmail yang dicuri adalah komunikasi yang menyesatkan. "Google sendiri tidak terkena dampak kebocoran data tersebut," ungkapnya.
Sumber data ini merupakan gabungan dari hasil pencurian data yang terjadi dalam berbagai kasus keamanan siber lainnya. Narang menambahkan, "sebaliknya, para peneliti mengumpulkan data ancaman dari berbagai sumber, yang mencakup 183 juta kredensial unik yang terkait dengan berbagai situs web, termasuk Gmail."
Sebanyak 91 persen data dalam kebocoran tersebut sudah pernah terlihat sebelumnya, menunjukkan perlunya pemahaman mengenai berapa banyak data yang benar-benar baru di dalamnya.
Tindakan Pengamanan yang Disarankan
Berdasarkan temuan yang ada, pengguna diimbau untuk melakukan langkah-langkah pengamanan. Salah satu tantangan yang paling umum adalah penggunaan ulang password yang sangat berisiko.
Pendekatan terhadap keamanan yang lebih baik mencakup penggunaan sistem pengelola password dan penerapan otentikasi multi-faktor. Narang menjelaskan, "Salah satu tantangan paling umum terkait kredensial akun yang dicuri adalah penggunaan ulang kata sandi."
Layanan otentikasi multi-faktor yang dapat digunakan meliputi kode sandi sekali pakai melalui SMS dan perangkat keras seperti Yubikey, guna meningkatkan keamanan akun pengguna terhadap potensi serangan.
Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: