Rabu, 22 OKTOBER 2025 • 18:51 WIB

Mikroplastik Dalam Air Hujan Jakarta: Tantangan Pencemaran Lingkungan

Author

Mikroplastik Dalam Air Hujan Jakarta: Tantangan Pencemaran Lingkungan

Air hujan di DKI Jakarta saat ini dilaporkan mengandung mikroplastik, menyoroti masalah pencemaran lingkungan yang kian memprihatinkan di kawasan perkotaan.

Baca juga: Pimpinan DPR RI Terima Aspirasi Mahasiswa Terkait Demonstrasi dan Tunjangan Anggota

Fenomena ini dijelaskan oleh Guru Besar IPB University, Prof Etty Riani, sebagai hasil dari berbagai sumber yang kompleks, dan memerlukan perhatian serius dari masyarakat serta pihak berwenang.

Sumber Mikroplastik di Lingkungan Perkotaan

Prof Etty Riani dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan menjelaskan bahwa mikroplastik yang terdeteksi dalam air hujan Jakarta berasal dari beragam sumber. Partikel-partikel ini, terutama dalam ukuran sangat kecil yang dikenal sebagai nanoplastik, memiliki massa yang ringan dan dapat terangkat ke atmosfer.

Sumber utama mikroplastik antara lain adalah gesekan ban mobil, penguraian sampah plastik kering yang terbawa angin, serta serat pakaian berbahan sintetis. Penjelasan ini menunjukkan kompleksitas masalah pencemaran plastik di kota besar seperti Jakarta.

Mikroplastik yang terperangkap di udara dapat dibawa oleh arus angin hingga jatuh ke permukaan bumi bersama air hujan. Dengan kata lain, hujan berfungsi sebagai 'pencuci' atmosfer, tetapi dalam prosesnya, dapat mencemari air yang seharusnya bersih.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China

Faktor Lingkungan yang Memperparah Pencemaran

Prof Etty mengemukakan bahwa faktor lingkungan, seperti suhu tinggi dan kondisi udara kering, dapat mempercepat pelapukan plastik. Proses ini pada gilirannya memudahkan partikel halus untuk beterbangan ke udara.

Tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari menjadi akar masalah yang tidak bisa diabaikan. Sejak bangun tidur hingga tidur kembali, berbagai aktivitas manusia tidak lepas dari penggunaan plastik, yang akhirnya berpotensi terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya kesadaran masyarakat akan frekuensi penggunaan plastik dan dampaknya terhadap lingkungan yang lebih luas.

Edukasi dan Tindakan Preventif yang Diperlukan

Prof Etty menekankan bahwa peningkatan edukasi masyarakat mengenai pola hidup ramah lingkungan sangat diperlukan. Ini mencakup pengurangan penggunaan plastik dan menghindari produk perawatan tubuh yang mengandung mikroplastik.

Lebih lanjut, masyarakat didorong untuk lebih bijak dalam memilah sampah sejak dari rumah dan mengadopsi prinsip 3R: Reduce, Reuse, dan Recycle. Kesadaran ini diharapkan dapat mengurangi akumulasi plastik yang berpotensi mengancam lingkungan.

Pemerintah juga memiliki peran sentral dalam mengimplementasikan kebijakan terkait, termasuk penegakan sanksi bagi individu atau perusahaan yang tidak mendukung pengurangan plastik. Prof Etty menyatakan bahwa masalah pencemaran plastik tidak hanya menjadi tantangan lingkungan, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan manusia karena adanya bahan aditif yang dapat memicu gangguan hormonal dan meningkatkan risiko kanker.

Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU