Senin, 20 OKTOBER 2025 • 17:43 WIB

Peringatan Hari Santri Nasional: Sebuah Penghargaan untuk Peran Pesantren

Author

Peringatan Hari Santri Nasional: Sebuah Penghargaan untuk Peran Pesantren

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada 22 Oktober menekankan pentingnya kontribusi pesantren dalam sejarah dan pendidikan di Indonesia.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China

Berbagai kegiatan dilakukan untuk menghormati peran sentral pesantren dalam membentuk karakter generasi muda dan meningkatkan semangat kebangsaan.

Sejarah Penetapan Hari Santri

Hari Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 Oktober 2015, bertempat di Masjid Istiqlal, Jakarta, sebagai bentuk pengakuan terhadap perjuangan umat Islam di Indonesia.

Penetapan ini diawali dari usulan KH Thoriq bin Ziyad, yang menekankan betapa vitalnya peran pesantren dalam perjuangan kemerdekaan negara.

Tanggal tersebut memiliki keterkaitan erat dengan fatwa 'Resolusi Jihad' yang dihasilkan oleh KH Hasyim Asy'ari, yang menyerukan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan.

Fatwa ini menjadi landasan bagi perjuangan rakyat di Surabaya, yang diingati melalui pertempuran 10 November, yang juga diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Peran Pesantren dalam Kebangsaan

Pesantren telah memainkan peran penting dalam pendidikan karakter dan kemandirian di Indonesia selama ratusan tahun, bahkan sebelum kemerdekaan dicapai.

Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian

Contohnya, santri dari Jember telah menulis novel yang menggambarkan interaksi mendidik antara santri dan guru, yang mencerminkan kedekatan dalam proses pembelajaran.

Penghormatan terhadap guru di pesantren terus dipraktikkan sebagai tradisi, ditandai dengan tindakan mencium tangan sebagai simbol keikhlasan santri terhadap ilmu yang diperoleh.

Penghormatan ini mencerminkan tanggung jawab keilmuan, yang tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga pada nilai moral.

Kritik dan Harapan bagi Persatuan Bangsa

Di era digital ini, pesantren sering mendapatkan kritik, seperti pada kasus ambruknya mushalla di beberapa pesantren yang menarik perhatian publik.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa kritik tersebut harus dipahami dalam konteks pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan antar kelompok identitas di masyarakat.

Dia menegaskan bahwa serangan terhadap kelompok identitas tidak seharusnya terjadi, mengingat dapat memecah belah masyarakat yang beraneka ragam.

Persiapan menuju Hari Santri 2025 diharapkan dapat menjadi momen refleksi untuk menghargai semua kelompok identitas demi mewujudkan kedamaian dan kerukunan yang lebih baik.

Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat untuk Polisi Terluka dalam Demonstrasi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU