Proses penuaan yang dialami oleh manusia tidak hanya berpengaruh pada fisik, tetapi juga pada fungsi kognitif. Tanda-tanda peringatan dini bisa menjadi indikasi bahwa otak mengalami penuaan lebih cepat dari seharusnya.
Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Tetap Melanjutkan Perjalanan ke China
Dr. Vassily Eliopoulos, seorang pakar dalam bidang umur panjang dan kesehatan otak, menekankan bahwa banyak tanda tersebut sering diabaikan dan dianggap sebagai dampak dari stres atau kelelahan sehari-hari.
Tanda-Tanda Peringatan Dini
Salah satu tanda awal dari penurunan fungsi kognitif adalah rasa cepat lelah saat berbicara meskipun dalam situasi obrolan yang ringan. Dr. Vassily menjelaskan bahwa otak yang sehat seharusnya melihat interaksi sosial sebagai stimulasi yang positif, bukan sesuatu yang menguras tenaga.
Ketika neuron mengalami penurunan atau terdapat tingkat peradangan yang tinggi, percakapan yang sebenarnya sederhana dapat menyebabkan kelelahan mental. Kondisi ini bisa jadi pertanda bahwa metabolisme energi pada otak mulai melambat, yang sering kali berkaitan dengan kurang tidur, stres, atau kekurangan nutrisi.
Sering kali, seseorang mengalami kesulitan untuk menemukan kata-kata dalam percakapan, yang merupakan indikasi bahwa jalur saraf untuk mengingat mungkin mengalami kelemahan. Dr. Vassily menyebut ini sebagai 'celah pengambilan', di mana informasi tersimpan tetapi sulit untuk diakses karena berkurangnya aktivitas neurotransmiter yang penting untuk pembelajaran dan ingatan.
Baca juga: Lima Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Perubahan Emosional dan Sensori
Kenaikan tingkat iritabilitas tanpa penjelasan yang jelas dapat menunjukkan adanya neuroinflamasi di otak. Ketika hormon stres seperti kortisol berada pada tingkat tinggi terus menerus, hal ini bisa mengganggu pusat pengaturan emosi di otak.
Dr. Vassily mencatat, bahwa sensitivitas yang meningkat terhadap kemarahan dan frustrasi dapat mempercepat proses penuaan otak melalui kerusakan pada koneksi saraf. Masyarakat sering mengalami kelelahan mental meskipun telah tidur cukup, sehingga mengindikasikan bahwa otak kesulitan untuk beristirahat secara efektif.
Tidur yang tidak efisien dalam jangka panjang bisa menyebabkan penumpukan plak amiloid di otak, yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer, suatu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai.
Kesehatan Mental dan Pola Makan
Perubahan sensitivitas terhadap suara dan cahaya dapat menjadi petunjuk penting tentang kesehatan otak. Dalam kondisi di mana sistem saraf menjadi hiperreaktif, hal ini dapat menunjukkan bahwa filter sensorik di otak mengalami penurunan, sering dialami oleh individu dengan stres kronis atau paparan layar yang berlebih.
Dr. Vassily memperingatkan bahwa penurunan kejernihan mental setelah makan dapat disebabkan oleh fluktuasi glukosa atau peradangan antara usus dan otak. Makanan tinggi gula atau karbohidrat olahan dapat memperlambat kinerja mental dan menyebabkan lonjakan insulin.
Akhirnya, kebingungan dalam lingkungan yang sudah dikenal juga bisa menjadi sinyal bahaya. Hal ini sering terjadi saat hipokampus, bagian otak yang berperan dalam memori dan navigasi, mulai menyusut akibat stres atau kurangnya stimulasi mental.
Baca juga: Perekrutan Kiper Baru oleh Manchester United dan Manchester City Jelang Penutupan Bursa Transfer
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: